Orang Tua Korban Keracunan MBG Tomohon Terhimpit: Tak Bisa Bekerja, Kehilangan Penghasilan, Hingga Terpaksa Berutang
- account_circle rafael
- calendar_month Jumat, 30 Jan 2026
- visibility 960
- comment 0 komentar
- print Cetak
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
TOMOHON, PRONews5.com — Dugaan keracunan massal akibat konsumsi Makanan Bergizi Gratis (MBG) di Kota Tomohon tidak hanya menimbulkan krisis kesehatan bagi ratusan siswa, tetapi juga memukul keras kondisi sosial dan ekonomi keluarga korban.
Sejak anak-anak mereka dirawat di rumah sakit, banyak orang tua terpaksa meninggalkan pekerjaan harian, kehilangan penghasilan, bahkan harus berutang demi memenuhi kebutuhan transportasi dan pendampingan medis.
Peristiwa ini terjadi sejak Senin (26/1/2026), ketika 111 siswa dari sejumlah sekolah di Tomohon mengalami gejala mual, pusing, dan sakit perut usai mengonsumsi MBG.
Hingga Jumat (30/1/2026), sebagian siswa masih menjalani perawatan di beberapa rumah sakit rujukan, sementara beban pendampingan sepenuhnya ditanggung keluarga.
“Biaya rumah sakit memang gratis karena ditanggung BPJS. Tapi kami tidak bisa bekerja. Sudah beberapa hari kami hanya di rumah sakit,” ungkap seorang orang tua siswa yang meminta identitasnya dirahasiakan kepada PRONews5.com, Jumat (30/1/2026).
Mayoritas orang tua korban diketahui bekerja di sektor informal seperti tukang bangunan, petani, buruh harian, dan pekerja serabutan lainnya. Ketika harus mendampingi anak yang dirawat, otomatis sumber penghasilan terhenti.
“Kalau tidak kerja, tidak ada pemasukan. Ada yang sampai harus pinjam uang hanya untuk ongkos bolak-balik rumah sakit,” tutur orang tua lainnya dengan nada getir.
- Penulis: rafael



Saat ini belum ada komentar