Adrianus Sebut Voucke Lontaan Pemimpin Berjiwa Besar di Tengah Konflik PWI
- account_circle (**/BEN)
- calendar_month Minggu, 19 Apr 2026
- visibility 354
- comment 0 komentar
- print Cetak

Voucke Lontaan (kanan) bersama Adrianus R. Pusungunaung (kiri). Adrianus menyebut Voucke sebagai pemimpin berjiwa besar yang mampu merangkul semua pihak di tengah konflik PWI. (Foto: istimewa)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
MANADO, PRONEWS5.COM — Di tengah badai konflik yang sempat membelah Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), sosok Voucke Lontaan dinilai tampil sebagai pemimpin berjiwa besar yang mampu menjaga stabilitas organisasi.
Penilaian itu disampaikan Adrianus R. Pusunggunaung, yang saat itu menjabat sebagai Wakil Ketua PWI Sulawesi Utara Bidang Advokasi dan Pembelaan Wartawan di bawah kepemimpinan Voucke Lontaan.
Menurut Adrianus, pengalaman bekerja langsung dalam struktur organisasi membuatnya melihat secara utuh karakter kepemimpinan Voucke, terutama saat menangani konflik internal PWI.
“Sebagai bawahan, tentu saya bangga memiliki pemimpin seperti beliau. Di tengah tekanan dan konflik, beliau tidak terpancing, justru memilih merangkul semua pihak,” ujar Adrianus, Minggu (19/4/2026).
Ia menegaskan, sikap-sikap tersebut bukanlah hal yang mudah, terutama dalam situasi organisasi yang terbelah akibat dualisme kepengurusan yang terjadi pada saat itu.
“Dia berjiwa besar. Saya sudah berseberangan bahkan dengan serangan yang keras, tapi tetap dirangkul.
Ini menunjukkan kualitas kepemimpinan yang tidak dimiliki semua orang,” katanya.
Konflik internal PWI kala itu berkembang menjadi dualisme yang memicu ketegangan hingga ke daerah.
Namun di Sulawesi Utara, keadaannya tetap relatif terkendali dan tidak berkembang menjadi suatu perpecahan yang berkepanjangan.
Adrianus menilai, hal itu tidak lepas dari peran Voucke yang mengedepankan kedewasaan dan stabilitas organisasi di atas kepentingan pribadi atau kelompok.
“Ketika punya kesempatan membalas atau menyingkirkan, dia tidak melakukannya. Justru semua dirangkul kembali. Itu kekuatan seorang pemimpin,” tegasnya.
Diketahui, Voucke Lontaan pernah menjabat sebagai Ketua PWI Sulawesi Utara selama dua periode, yakni 2016–2021 dan 2021–2026.
Kepemimpinannya dinilai konsisten menjaga soliditas organisasi di tengah berbagai dinamika.
Tak hanya di PWI, Voucke juga dipercaya memimpin Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Sulawesi Utara untuk periode 2026–2030, berdasarkan Surat Keputusan yang diterima pada 7 Maret 2026.
Sementara itu, konflik PWI secara nasional akhirnya mencapai titik rekonsiliasi melalui Kongres Persatuan di Cikarang, Jawa Barat, pada 30 Agustus 2025.
Pasca-kongres, hubungan antar pengurus yang sempat terbelah mulai kembali mencair. Adrianus menyebut, kepemimpinan di tingkat daerah menjadi faktor kunci dalam mempercepat pemulihan organisasi.
“Kalau pemimpinnya tidak punya jiwa besar, konflik pasti berkepanjangan. Tapi di Sulut tidak terjadi. Itu karena kepemimpinan yang dewasa,” ujarnya.
Ia juga mengingat pernyataan Vanny Loupatty yang menegaskan bahwa konflik bukan berasal dari daerah.
“Sulut sebenarnya tidak bermasalah. Kami hanya menjalankan mandat organisasi saat itu,” kata Adrianus mengutip.
Bagi Adrianus, pengalaman tersebut menjadi pelajaran penting tentang arti kepemimpinan dalam organisasi pers.
“Pemimpin itu bukan sekedar jabatan, tapi bagaimana pengambilan saat konflik. Voucke sudah menunjukkan hal itu,” tutupnya.
- Penulis: (**/BEN)



Saat ini belum ada komentar