Pengukuhan PneT di Bogor Diperkuat Aksi Sosial untuk Generasi Tombulu
- account_circle (**/ML)
- calendar_month Senin, 7 Sep 2026
- visibility 103
- comment 0 komentar
- print Cetak

Suasana kebersamaan keluarga besar Pinaesaan ne Tombulu (PneT) saat mengikuti rangkaian pengukuhan pengurus, bakti sosial, serta kegiatan budaya di Citeureup, Bogor. (Foto: istimewa/pronews5.com)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
BOGOR, PRONEWS5.COM — Pengukuhan Pengurus Besar Pinaesaan ne Tombulu (PneT) di Bogor tidak sekadar menjadi agenda organisasi. Kegiatan tersebut dirangkaikan dengan bakti sosial di Panti Asuhan Yayasan Kami Satu, Citeureup, Bogor, sebagai wujud kebersamaan dan kepedulian keluarga besar Tombulu terhadap sesama.
Rangkaian kegiatan berlangsung pada Sabtu akhir pekan lalu dan diikuti Dewan Pembina, Dewan Penasihat, jajaran Pengurus Besar PneT bersama keluarga, serta pimpinan Panti Asuhan Yayasan Kami Satu Citeureup.
Ketua Umum PneT, Edwin O.J. Poluan, MBA., menyampaikan apresiasi kepada seluruh pengurus dan keluarga besar yang telah memberikan dukungan, baik dalam bentuk materi maupun nonmateri.
Menurut Edwin, dukungan tersebut menjadi bagian penting sehingga seluruh rangkaian kegiatan dapat berjalan lancar, khidmat, sekaligus menghadirkan suasana kekeluargaan.
“Sehari pelaksanaan rasanya begitu singkat karena kegembiraan dan kebersamaan yang kita rasakan bersama begitu luar biasa,” ujar Edwin.
Kegiatan diawali dengan ibadah syukur dalam rangka pengukuhan Pengurus Besar PneT. Prosesi pengukuhan kemudian dilakukan oleh tokoh yang dituakan dalam perkumpulan PneT, Laksda TNI (Purn) Yoost Mengko.
Nuansa budaya Tombulu terasa kuat dalam prosesi tersebut. Naskah pengukuhan dibacakan menggunakan bahasa Tombulu sebagai bentuk penghormatan terhadap identitas, sejarah, dan nilai budaya yang menjadi salah satu perekat keluarga besar PneT.
Setelah prosesi pengukuhan, kegiatan dilanjutkan dengan penandatanganan Pakta Integritas secara simbolis. Yoost Mengko mewakili Dewan Pembina, Albert Korompis mewakili Dewan Penasihat, sementara Ketua Umum PneT Edwin O.J. Poluan menandatangani dari unsur Pengurus Besar.
Dari agenda organisasi, kegiatan kemudian bergerak pada aksi sosial. Rombongan PneT mendatangi Panti Asuhan Yayasan Kami Satu di Citeureup untuk menyerahkan bantuan kasih.
Bantuan tersebut terdiri atas kebutuhan sehari-hari, perlengkapan mandi dan mencuci, kebutuhan kebersihan rumah dan dapur, sembako, makanan ringan bagi anak-anak, serta berbagai kue kaleng.
Penyerahan bantuan dilakukan secara simbolis oleh Yoost Mengko bersama Edwin Poluan. Kegiatan dilanjutkan dengan sambutan Ketua Umum PneT serta pimpinan panti asuhan, John Waleleng dan Olga Mongdong.
Ketua Panitia Penyelenggara, Deitje W. Mawuntu, S.Pd., mengatakan kegiatan sosial seperti itu diharapkan tidak berhenti sebagai bagian dari acara pengukuhan, tetapi dapat menjadi agenda yang terus dilanjutkan PneT.
“Semoga bantuan ini bisa bermanfaat bagi saudara-saudara kita di sana. Mereka semua juga adalah putra-putri Tombulu, calon generasi penerus,” kata Deitje.
Selain pengukuhan dan bakti sosial, rangkaian kegiatan juga menjadi ruang bagi keluarga besar PneT untuk membicarakan berbagai agenda organisasi.
Forum tersebut dikemas melalui tradisi “marewok”, yakni bincang-bincang untuk membahas berbagai rencana dan program ke depan. Sementara “zumani” dimaknai sebagai ruang untuk bercerita, menyampaikan pendapat, serta berdiskusi demi tujuan yang baik dan kepedulian terhadap sesama.
Dalam forum itu turut dibahas sejumlah agenda organisasi, termasuk persiapan kegiatan Natal dan Paskah yang kemudian dilanjutkan dengan pembentukan kepanitiaan.
Kegiatan tersebut menunjukkan bahwa PneT tidak hanya membangun hubungan organisasi secara administratif, tetapi juga mempertahankan pola komunikasi kekeluargaan dan nilai budaya dalam menjalankan berbagai program.
Nuansa budaya semakin terasa ketika sejumlah bagian kegiatan dijelaskan menggunakan bahasa Tombulu. Filosofi dari proses memasak sejak pagi hingga makan bersama juga menjadi bagian dari rangkaian kebersamaan tersebut.
Suasana kemudian semakin meriah melalui tarian Katrili. Para peserta tidak sekadar menyaksikan, tetapi ikut turun menari dan berlatih bersama. Kegiatan dipimpin Bidang Seni dan Budaya PneT, Adrianus Senduk, asal Woloan.
Menjelang sore, kebersamaan berlanjut di lapangan terbuka. Para peserta menikmati berbagai panganan tradisional seperti pisang goreng dan makanan rebus sembari dihibur musik serta penampilan para penyanyi internal Pengurus PneT.
Deitje menyampaikan permohonan maaf atas berbagai kekurangan selama penyelenggaraan kegiatan. Panitia juga membuka ruang kritik dan saran sebagai bahan evaluasi untuk kegiatan berikutnya.
“Jika ada kekurangan dan kekhilafan dalam penyelenggaraan, kami mohon dimaafkan. Kritik dan masukan Bapak/Ibu sangat kami harapkan untuk menjadi perbaikan dalam kegiatan-kegiatan selanjutnya,” ujarnya.
Ia berharap dukungan dan kebaikan seluruh pihak dalam kegiatan tersebut mendapat balasan berkat dari Tuhan.
“Terima kasih sekali lagi. Semoga kebaikan Bapak/Ibu dibalaskan dengan berkat yang melimpah dari Tuhan kita. Amin. Pakatuan wo Pakalawizen,” pungkas Deitje.
- Penulis: (**/ML)



Saat ini belum ada komentar