Wapres ke-6 RI Try Sutrisno Tutup Usia
- account_circle rafael
- calendar_month Senin, 2 Mar 2026
- visibility 440
- comment 0 komentar
- print Cetak
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
JAKARTA, PRONews5.com – Indonesia berduka. Wakil Presiden ke-6 Republik Indonesia, Try Sutrisno, meninggal dunia pada Senin pagi, 2 Maret 2026, pukul 06.58 WIB di RSPAD Gatot Soebroto, Jakarta. Almarhum wafat setelah menjalani perawatan intensif sejak pertengahan Februari akibat kondisi fisik yang terus menurun.
Putra almarhum, Dr. Taufik Dwi Cahyono, MSc, mengungkapkan bahwa sang ayah mulai dirawat pada 16 Februari 2026. Awalnya, Try Sutrisno mengalami penurunan nafsu makan yang berdampak pada dehidrasi dan melemahnya kondisi tubuh.
“Sejak dirawat, kondisi beliau naik turun. Tim dokter sudah memberikan pengobatan dan asupan nutrisi. Pagi tadi kami mendapat kabar kondisi beliau drop,” ujar Taufik kepada wartawan.
Keluarga menegaskan tidak ada penyakit kronis atau diagnosis khusus yang menjadi penyebab wafatnya mantan orang nomor dua di Indonesia tersebut. Faktor usia disebut menjadi penyebab utama kondisi kesehatan yang kian rapuh. “Tidak ada penyakit luar biasa. Memang usia sudah lanjut, makan susah, lalu dehidrasi,” tambahnya.
Disemayamkan di Menteng, Dimakamkan di TMP Kalibata
Jenazah almarhum dimandikan di rumah duka RSPAD sebelum dibawa ke kediaman keluarga di Jalan Purwakarta Nomor 6, Menteng, Jakarta Pusat. Rencananya, sebelum dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, jenazah akan disalatkan di Masjid Sunda Kelapa.
Pemakaman akan dilakukan secara militer sebagai penghormatan atas pengabdian panjangnya di institusi pertahanan dan pemerintahan.
Jejak Panjang di Militer dan Pemerintahan
Try Sutrisno dikenal sebagai figur militer yang menapaki karier dari bawah hingga puncak komando. Ia pernah menjabat Panglima ABRI sebelum dipercaya menjadi Wakil Presiden RI periode 1993–1998.
Kehadirannya di pemerintahan kala itu merepresentasikan kuatnya peran militer dalam dinamika politik nasional era Orde Baru.
Di luar jabatan publiknya, Try Sutrisno adalah kepala keluarga dengan tujuh anak yang berkiprah di berbagai bidang, mulai dari militer, kepolisian, pendidikan, hingga aktivitas sosial.
Warisan nilai disiplin dan pengabdian disebut menjadi fondasi pendidikan dalam keluarganya.
Kepergian Try Sutrisno bukan sekadar kehilangan bagi keluarga, tetapi juga penutup satu bab penting sejarah politik Indonesia. Figur yang lahir dari tradisi militer itu meninggalkan jejak panjang dalam dinamika transisi kekuasaan dan perjalanan bangsa di penghujung abad ke-20. Bangsa kini memberi penghormatan terakhir—sementara sejarah akan mencatatnya sebagai salah satu tokoh penting dalam konfigurasi sipil-militer Indonesia.
[**/IND]
- Penulis: rafael



Saat ini belum ada komentar