GMIM Siapkan Pelayanan di Australia dan Perkuat Kemitraan dengan UCA
- account_circle (**/ARP)
- calendar_month 55 menit yang lalu
- visibility 48
- comment 0 komentar
- print Cetak

Ketua BPMS GMIM Pendeta Dr. Adolf Katuuk Wenas, M.Th., bersama perwakilan Uniting Church in Australia dan jajaran BPMS GMIM dalam pertemuan di Kantor Sinode GMIM, Tomohon, Kamis (15/10/2026), membahas penguatan kemitraan gereja dan rencana pelayanan bagi komunitas GMIM di Melbourne, Australia.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
MANADO, PRONEWS5.COM – Gereja Masehi Injili di Minahasa (GMIM) berencana mengaktifkan kembali komunitas jemaatnya di Melbourne, Australia, sekaligus memperkuat kemitraan pelayanan dengan Uniting Church in Australia (UCA).
Langkah ini menjadi bagian dari pengembangan pelayanan lintas negara untuk menjangkau warga GMIM di Australia dan memperluas kolaborasi oikumenis.
Rencana tersebut disampaikan Ketua Badan Pekerja Majelis Sinode (BPMS) GMIM, Pendeta Dr. Adolf Katuuk Wenas, M.Th., dalam pertemuan bersama Pendeta Alexander Pittaway dari UCA Neutral Bay dan Maudie Rindorindo-Gusti, Ketua Majelis Gereja Kristen Indonesia (GKI) di UCA Neutral Bay, Sydney, New South Wales, Australia. Pertemuan berlangsung di Kantor Sinode GMIM, Tomohon, Kamis (15/10/2026).
Wenas menjelaskan, hubungan GMIM dan UCA memiliki landasan kemitraan yang telah berlangsung lama.
Kedua gereja berstatus sister church atau gereja bersaudara yang selama ini membangun kerja sama melalui berbagai program pelayanan.
Menurutnya, penguatan hubungan tersebut tidak hanya berorientasi pada keberlanjutan kemitraan kelembagaan, tetapi juga pada pemenuhan kebutuhan rohani jemaat Indonesia yang bermukim di Australia, khususnya warga yang memiliki latar belakang pelayanan GMIM.
Sebagai tindak lanjut, BPMS GMIM tengah mempersiapkan pendeta dan vikaris yang nantinya akan ditugaskan untuk mendukung pelayanan komunitas GMIM di Melbourne.
Pengaktifan kembali komunitas tersebut diharapkan membuka ruang bagi warga Minahasa dan anggota jemaat GMIM di Australia untuk beribadah serta membangun kehidupan bergereja secara lebih terorganisasi.
“Kami berharap seluruh persiapan dapat berjalan lancar sehingga pelayanan di Melbourne bisa terlaksana dengan baik,” demikian penegasan Wenas mengenai rencana tersebut.
Selain pengembangan pelayanan di Melbourne, GMIM dan UCA Neutral Bay juga merencanakan sejumlah agenda bersama.
Program itu meliputi diskusi dan pertukaran pengalaman pelayanan secara daring, seminar, serta kunjungan pelayanan secara langsung di lingkungan GMIM maupun UCA.
Rangkaian kegiatan tersebut diharapkan menjadi sarana pertukaran pengetahuan, penguatan kapasitas pelayanan, dan pengembangan kerja sama antargereja yang lebih terarah.
Pendeta Alexander Pittaway menyambut positif keterbukaan BPMS GMIM dalam membahas arah kemitraan ke depan.
Ia menilai hubungan oikumenis antara kedua gereja merupakan wujud komitmen untuk saling mendukung, baik dalam pelayanan kerohanian maupun berbagai kegiatan kemanusiaan.
Pittaway juga mengungkapkan bahwa komunitas jemaat Indonesia yang dilayaninya di Australia memiliki latar belakang yang beragam. Namun, sebagian besar di antaranya berasal dari lingkungan gereja GMIM.
Kondisi tersebut, menurutnya, memperkuat relevansi kemitraan kedua gereja. Hubungan yang terpelihara dengan baik dapat membantu memastikan kebutuhan rohani jemaat Indonesia di Australia mendapatkan perhatian dan pelayanan yang memadai.
Dukungan serupa disampaikan Maudie Rindorindo-Gusti yang dipercaya memimpin Sidang Majelis GKI UCA Neutral Bay. Ia menjelaskan bahwa pelayanan gereja yang dipimpinnya turut memberikan ruang bagi pengenalan budaya dari berbagai daerah di Indonesia, termasuk Minahasa.
Pendekatan tersebut menjadi salah satu cara untuk mempertahankan ikatan emosional jemaat dengan daerah asal dan warisan budaya leluhur mereka, meskipun tinggal jauh dari Indonesia.
Dalam sejumlah perayaan gerejawi, pihaknya menghadirkan tata ibadah dengan nuansa budaya daerah Indonesia. Menurut Rindorindo-Gusti, suasana tersebut memberikan pengalaman spiritual sekaligus memperkuat rasa persaudaraan di antara anggota jemaat.
Semangat itu tercermin dalam ungkapan khas Minahasa, “Torang samua basudara,” yang menegaskan nilai persaudaraan sebagai landasan kehidupan bersama.
Pertemuan tersebut turut dihadiri sejumlah Wakil Ketua BPMS GMIM, Sekretaris dan Wakil Bendahara BPMS GMIM, serta pengurus Yayasan Bridge of Hope, yakni Ir. Miki Juanita Wenur, M.AP., Ria Siagian, dan Pendeta Feybe Lumanauw.
Penguatan kemitraan GMIM dan UCA diharapkan tidak berhenti pada komunikasi antarlembaga, tetapi berkembang menjadi program pelayanan yang konkret, berkelanjutan, dan mampu menjawab kebutuhan jemaat Indonesia di Australia.
- Penulis: (**/ARP)



Saat ini belum ada komentar