BBM Pertalite Langka, Pedagang Eceran Raup Untung hingga Rp14 Ribu per Liter, Warga Kotamobagu Desak Polisi Tindak Mafia BBM
- account_circle Red Pronews
- calendar_month Jumat, 3 Jul 2026
- visibility 780
- comment 0 komentar
- print Cetak

Pedagang bensin eceran di Kota Kotamobagu menjual BBM jenis Pertalite dengan harga mencapai Rp14.000 per liter di tengah kelangkaan pasokan dan antrean panjang di sejumlah SPBU. (Foto: istimewa)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
KOTAMOBAGU, PRONEWS5.COM – Kelangkaan Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi jenis Pertalite di Kota Kotamobagu diduga dimanfaatkan oleh pedagang bensin eceran untuk meraup keuntungan besar. Di tengah antrean panjang kendaraan di sejumlah SPBU, harga Pertalite eceran melonjak hingga Rp14.000 per liter, naik dari sebelumnya sekitar Rp12.000 per liter.
Kondisi tersebut memicu keresahan masyarakat. Warga menilai praktik penjualan kembali BBM bersubsidi dengan harga jauh di atas harga resmi diduga menjadi salah satu faktor yang memperparah kelangkaan di lapangan.
“Antrean kendaraan di SPBU sangat panjang. Yang menjadi tanda tanya kami, kenapa pedagang bensin eceran justru sangat mudah mendapatkan Pertalite untuk dijual kembali dengan harga yang sudah sangat mahal,” ujar Anto, warga Kotamobagu, Jumat (3/7/2026).
Menurut warga, aparat penegak hukum perlu segera melakukan penyelidikan terhadap dugaan praktik penimbunan maupun penyalahgunaan distribusi BBM bersubsidi apabila ditemukan bukti adanya pelanggaran.
“Polisi harus segera melakukan penyelidikan karena praktik seperti ini sudah sangat meresahkan kami sebagai masyarakat,” katanya.
Kelangkaan Pertalite juga mulai berdampak pada aktivitas ekonomi masyarakat. Sejumlah pengemudi bentor, angkutan umum, hingga pengemudi ojek pengantaran makanan mengaku terbebani akibat sulit memperoleh BBM dan meningkatnya harga di tingkat eceran.
Warga berharap pemerintah bersama aparat kepolisian dan instansi terkait segera mengambil langkah konkret untuk memastikan distribusi BBM bersubsidi berjalan sesuai ketentuan serta mencegah praktik penyalahgunaan yang merugikan masyarakat.
“Kalau kondisi ini terus dibiarkan tanpa tindakan tegas dari pemerintah dan aparat kepolisian, masyarakat yang akan terus dirugikan,” tambah Anto.
Berdasarkan pantauan di lapangan, kelangkaan Pertalite telah berlangsung sekitar satu bulan di hampir seluruh SPBU di Kotamobagu. Setiap hari antrean kendaraan mengular hingga menyebabkan kemacetan di sejumlah titik.
Di sisi lain, masyarakat menyoroti masih lancarnya pasokan Pertalite yang dijual di tingkat eceran, meski stok di SPBU kerap habis.
Kondisi tersebut memunculkan pertanyaan publik mengenai pengawasan distribusi BBM bersubsidi dan mendorong adanya investigasi dari pihak berwenang untuk memastikan penyaluran Pertalite tepat sasaran serta sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
[**/NOX]
- Penulis: Red Pronews



Saat ini belum ada komentar