Sebelum Kericuhan Tinju Liga Pelajar Manado Pecah Ternyata Ketua Pertina Sulut Sudah Ingatkan
- account_circle Red Pronews
- calendar_month Minggu, 6 Sep 2026
- visibility 602
- comment 0 komentar
- print Cetak

Ketua Pertina Sulut Hendra Jacob SIP (foto insert).
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
MANADO, PRONEWS5.COM — Kericuhan yang mewarnai pertandingan Tinju Liga Pelajar Manado di Youth Center Manado, Sabtu (5/9/2026), ternyata telah diantisipasi oleh Pengurus Provinsi Persatuan Tinju Amatir Indonesia (Pertina) Sulawesi Utara.
Sebelum digelarnya pertandingan, Ketua Umum Pertina Sulut Hendra Jacob, SIP, mengaku sudah mengingatkan seluruh wasit, hakim, pelatih, dan ofisial agar menjaga profesionalisme, sportivitas, serta berperilaku selama pelaksanaan pertandingan.
Imbauan tersebut kembali ditegaskan Hendra Jacob saat dihubungi PRONEWS5.COM, Minggu (6/9/2026) pagi, menyikapi terjadinya protes berlebihan dalam pertandingan yang melibatkan atlet pelajar tersebut.
Hendra menegaskan, wasit dan hakim memiliki tanggung jawab besar untuk memastikan setiap pertandingan berjalan objektif dan sesuai aturan yang berlaku.
“Kepada para wasit dan hakim pertandingan, saya sebagai Ketua Umum Pertina Sulut mengingatkan agar selalu menjalankan tugas secara objektif, tegas, konsisten, dan sesuai dengan peraturan pertandingan yang berlaku,” tegas Hendra.
Menurutnya, setiap keputusan pertandingan harus didasarkan pada pengamatan yang cermat terhadap perekaman laga. Keputusan mutlak tidak boleh dipengaruhi oleh tekanan dari pihak mana pun.
Ia juga meminta perangkat pertandingan menjaga komunikasi, sikap, dan keputusan agar tetap mencerminkan profesionalisme tinggi.
“Karena pertandingan ini melibatkan pelajar, maka keamanan, pelatihan, dan keteladanan harus menjadi perhatian utama,” ujarnya.
Tak hanya kepada wasit dan hakim, Hendra juga secara khusus memberikan peringatan keras kepada para pelatih dan ofisial.
Ia memahami bahwa setiap pelatih memiliki kepedulian dan tanggung jawab terhadap atlet yang dibinanya. Namun, persetujuan terhadap keputusan pertandingan harus disampaikan melalui mekanisme resmi yang berlaku.
Tindakan protes dengan cara membentak, mengintimidasi, maupun melakukan aksi anarkis yang dapat mengganggu pemutaran pertandingan yang dinilai sama sekali tidak dapat dibenarkan.
“Protes yang berlebihan, membentak, mengintimidasi hingga membanting kursi tidak dapat dibenarkan karena dapat mengganggu jalannya pertandingan, membahayakan orang lain serta memberikan contoh yang tidak baik bagi para atlet pelajar,” kata Hendra.
Perlu diketahui, dalam pelaksanaan Liga Pelajar Manado tersebut, salah satu pelatih kedapatan melakukan protes berlebihan terhadap keputusan pertandingan yang disertai tindakan membanting kursi. Peristiwa inilah yang kemudian memicu kericuhan di area pertandingan.
Hendra menegaskan, kejadian kelam ini harus menjadi bahan evaluasi bersama agar tidak kembali terulang pada ajang-ajang berikutnya.
Ia bahkan menyatakan tidak akan segan-segan memberikan tindakan tegas berupa sanksi organisasi terhadap pihak yang melakukan intimidasi dengan cara kejam maupun mengancam.
“Yang melakukan intimidasi dengan cara-cara yang kejam dan ancaman segera diberikan sanksi tertulis.
Saya tanda tangani. Yang bersangkutan tidak boleh terlibat dalam kegiatan tinju di Sulut hingga batas waktu yang tidak ditentukan,” tegasnya berjanji.
Menurut Hendra, langkah mem-blacklist oknum tersebut bukan semata-mata untuk memberikan hukuman, melainkan bagian dari upaya membangun disiplin dalam pelatihan olahraga tinju di bumi Nyiur Melambai.
Lebih lanjut, Hendra meminta setiap persoalan yang muncul di atas ring tidak diselesaikan dengan mengandalkan emosi.
Jika terdapat keraguan atau keberatan terhadap keputusan wasit maupun hakim, pelatih dan ofisial diminta berkoordinasi langsung dengan pengawas pertandingan, koordinator pertandingan, atau meja resmi sesuai mekanisme.
“Apabila terdapat keraguan atau keberatan, hendaknya diselesaikan melalui koordinasi dengan pengawas pertandingan sesuai mekanisme yang telah ditetapkan,” jelasnya.
Ia menilai mekanisme resmi sangat penting untuk menjaga pertandingan tetap berlangsung dengan tertib, sekaligus memberikan ruang bagi setiap pihak untuk menyampaikan persetujuan secara profesional.
Bagi Hendra, insiden di Youth Center Manado tidak boleh berhenti sebagai sebuah pertunjukan semata.
Peristiwa tersebut harus menjadi momentum untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap pelaksanaan pertandingan tinju di Sulut.
Evaluasi ini terutama mencakup disiplin pelatih dan pejabat, profesionalisme perangkat pertandingan, serta mekanisme penanganan protes di lapangan.
“Belajar dari ajang ini agar ke depan kita semakin disiplin, semakin dewasa dalam menyikapi pertandingan dan semakin kuat dalam membangun atlet-atlet Sulawesi Utara,” ujarnya.
Ia mengajak seluruh insan tinju di Sulawesi Utara untuk menjadikan arena pertandingan sebagai tempat membentuk mental juara, bukan tempat melampiaskan amarah terlarang.
“Jangan biarkan emosi mengalahkan tujuan besar kita. Kita datang ke arena untuk melahirkan juara, membangun karakter dan mengharumkan nama Sulawesi Utara.
Menang harus terhormat, kalah harus tetap buruk. Kalau ada keputusan yang dianggap keliru, lawan dengan aturan, bukan dengan amarah,” tegas Hendra.
Ia menambahkan, kemajuan olahraga tinju tidak hanya ditentukan oleh kemampuan atlet di atas ring, tetapi juga oleh kualitas orang-orang yang berada di sekitarnya.
Wasit harus adil, pelatih harus menjadi teladan, pejabat harus menjaga ketertiban, dan atlet harus belajar menghormati proses.
“Kalau kita ingin melahirkan petinju yang hebat, maka kita juga harus membangun lingkungan tinju yang hebat.
Disiplin, sportivitas dan ketegasan harus berjalan bersama. Jangan bakar arena dengan emosi, tapi bakar semangat atlet dengan prestasi,” pungkas Hendra Jacob
- Penulis: Red Pronews



Saat ini belum ada komentar