Tragedi Berdarah di Lebanon: Serangan Udara Israel Tewaskan 3 Jurnalis
- account_circle rafael
- calendar_month Sabtu, 28 Mar 2026
- visibility 289
- comment 0 komentar
- print Cetak

Serangan Udara Israel Tewaskan 3 Jurnalis
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
LEBANON,PRONEWS5.COM – Ancaman keselamatan bagi pekerja pers di wilayah konflik kembali menjadi sorotan dunia. Tiga jurnalis dilaporkan tewas secara tragis akibat serangan udara militer Israel di wilayah selatan Lebanon pada Sabtu (28/3/2026) waktu setempat.
Insiden mematikan ini semakin memperpanjang daftar jurnalis yang gugur di tengah eskalasi konflik Timur Tengah. Menurut sumber dari militer Lebanon yang dilansir AFP, gempuran Israel tersebut secara spesifik menargetkan kendaraan yang ditumpangi oleh para awak media.
Identitas Korban: Jurnalis Al-Manar dan Al-Mayadeen
Serangan nahas yang terjadi di kawasan Jezzine, Lebanon Selatan tersebut merenggut nyawa jurnalis dari dua media besar setempat. Para korban tewas meliputi Al Shouaib, jurnalis dari stasiun televisi Al-Manar yang berafiliasi dengan Hizbullah, serta Fatima Fatouni, jurnalis dari jaringan Al-Mayadeen.
Tak hanya kedua jurnalis tersebut, seorang juru kamera dan saudara laki-laki Fatouni juga dilaporkan turut menjadi korban jiwa dalam kendaraan yang sama. Manajemen televisi Al-Mayadeen maupun Al-Manar telah mengonfirmasi dan berduka atas kematian kru mereka yang tengah bertugas.
Agresi Israel Makin Masif di Lebanon
Tewasnya ketiga jurnalis ini terjadi di tengah gelombang serangan udara Israel yang semakin intensif menggempur berbagai wilayah di Lebanon. Gempuran militer ini merupakan bagian dari ketegangan yang terus memanas dengan kelompok Hizbullah.
Sehari sebelum insiden ini, tepatnya pada Jumat (27/3/2026), Israel juga melancarkan serangan udara mematikan ke kota Saksakiyah di distrik Sidon. Mengutip laporan Aljazeera, gempuran tersebut menelan empat korban tewas dan sedikitnya delapan orang lainnya menderita luka-luka.
Eskalasi konflik bersenjata antara militer Israel dan Hizbullah di perbatasan tidak hanya melumpuhkan infrastruktur, namun juga terus memakan korban jiwa dari kalangan sipil, termasuk jurnalis yang dilindungi oleh hukum humaniter internasional.
- Penulis: rafael



Saat ini belum ada komentar