Sanggar Kamang Wangko Woloan Cetak Penulis Muda, Balai Bahasa Sulut Dorong Lahirnya Karya Sastra Lokal Terdokumentasi
- account_circle (**/ML)
- calendar_month Selasa, 21 Jul 2026
- visibility 164
- comment 0 komentar
- print Cetak

Pelestari budaya sekaligus sastrawan Rikson Karundeng saat menyampaikan materi penulisan cerita dongeng dan legenda dalam Pelatihan Kreatif Menulis Sastra Lokal yang digelar Sanggar Kamang Wangko Woloan di Michinoeki PAKEWA, Kota Tomohon, Selasa (21/7/2026). Foto: Istimewa.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
TOMOHON, PRONEWS5.COM – Upaya memperkuat pelestarian bahasa, sastra, dan budaya lokal terus digelorakan Sanggar Kamang Wangko Woloan melalui Pelatihan Kreatif Menulis Sastra Lokal yang digelar di Michinoeki “PAKEWA”, Jalan Tomohon–Manado, Kelurahan Talete Dua, Kecamatan Tomohon Tengah, Kota Tomohon, Selasa (21/7/2026).
Kegiatan yang diprakarsai Sanggar Kamang Wangko Woloan dengan Armando Loho sebagai pelaksana ini dibuka secara resmi oleh Kepala Balai Bahasa Provinsi Sulawesi Utara, Januar Pribadi.
Pelatihan tersebut menjadi wadah bagi generasi muda untuk mengasah kemampuan menulis sekaligus mendorong lahirnya karya-karya sastra lokal yang terdokumentasi dalam bentuk antologi.
Dalam sambutannya, Januar Pribadi memberikan apresiasi atas konsistensi Armando Loho dan Sanggar Kamang Wangko Woloan yang selama ini aktif menjalin kemitraan dengan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa dalam berbagai program kesastraan.
“Armando ini konsisten. Setiap tahun beliau selalu berusaha mendapatkan bantuan pemerintah, dalam hal ini bantuan dari Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa,” ujar Januar.
Menurutnya, bantuan pemerintah kepada komunitas sastra bukan sekadar dukungan pendanaan, melainkan stimulus agar komunitas mampu berkembang dan mencapai kemandirian.
“Bantuan ini sebenarnya bukan semata-mata pemberian bantuan, tetapi sebagai stimulus agar organisasi atau komunitas dapat mandiri. Tujuan utamanya memang kemandirian,” jelasnya.
Ia menambahkan, pemerintah tetap memiliki tanggung jawab untuk hadir dan mendukung komunitas sastra melalui berbagai program pembinaan.
Januar mengungkapkan, pada tahun 2026 Sulawesi Utara hanya memiliki satu komunitas yang berhasil memperoleh bantuan dari Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa setelah melalui proses seleksi di tingkat pusat.
“Tahun ini, di Sulawesi Utara hanya ada satu penerima bantuan tersebut karena proses seleksi dan penentuannya berada di Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa,” katanya.
Menurut Januar, salah satu tantangan terbesar dalam pengembangan sastra daerah adalah masih minimnya karya yang terdokumentasi, terutama dari kalangan generasi muda.
Karena itu, pelatihan ini diharapkan mampu menghasilkan karya yang memiliki nilai dokumentasi sebagai rekam jejak kepengarangan.
“Salah satunya, kita masih kekurangan karya-karya sastra yang terdokumentasi. Ini menjadi pekerjaan rumah bagi kita, khususnya di kalangan generasi muda,” ujarnya.
Ia juga menekankan pentingnya pembinaan kepenulisan sejak usia dini agar muncul penulis-penulis muda yang konsisten berkarya.
“Saya sangat setuju jika anak-anak sejak dini sudah diperkenalkan dengan kegiatan menulis karya sastra, apa pun bentuknya. Kalau sekarang rata-rata usia mereka sekitar 15 tahun, kemudian nanti ada satu, dua, atau tiga orang yang tetap konsisten menulis, kita sudah memiliki data mengenai siapa saja penulis yang konsisten,” paparnya.
Lebih lanjut, Januar menjelaskan bahwa dokumentasi karya menjadi syarat penting dalam pemberian apresiasi kepada para sastrawan.
“Di Badan Bahasa terdapat pemberian apresiasi kepada sastrawan yang telah berkarya selama 25 tahun, 40 tahun, hingga 50 tahun. Salah satu syarat untuk diakui telah berkarya selama 25 tahun adalah adanya bukti karya yang terdokumentasi,” tambahnya.
Sementara itu, Armando Loho menyampaikan bahwa pelatihan tersebut merupakan bentuk dukungan Sanggar Kamang Wangko Woloan terhadap program pelestarian bahasa dan sastra yang dijalankan Balai Bahasa Provinsi Sulawesi Utara.
“Kami sangat terbantu dengan adanya program dari Balai Bahasa. Kegiatan ini menjadi wujud dukungan kami terhadap upaya pelestarian bahasa dan sastra lokal,” katanya.
Armando menjelaskan, kegiatan tersebut merupakan pengembangan dari program sebelumnya, yakni pelestarian Tari Mahzani. Pengalaman itu menjadi bekal untuk meningkatkan kualitas program sekaligus memperluas dampak pelestarian budaya.
“Kegiatan ini merupakan improvisasi dari program yang pernah kami laksanakan sebelumnya, yaitu pelestarian Tari Mahzani. Kami ingin terus meningkatkan kapasitas kegiatan agar dampaknya semakin luas bagi pelestarian budaya,” ungkapnya.
Ia menegaskan, Sanggar Kamang Wangko Woloan tidak ingin berhenti pada program yang didukung pemerintah. Ke depan, pihaknya telah menyiapkan berbagai program pelestarian budaya yang akan dijalankan secara mandiri.
“Kami tidak ingin berhenti sampai di sini. Ke depan kami sudah merencanakan berbagai program pelestarian kebudayaan yang akan kami inisiasi secara mandiri untuk mendukung program-program Balai Bahasa,” tegas Armando.
Pelatihan ini menghadirkan sejumlah narasumber dari berbagai latar belakang. Pelestari budaya sekaligus sastrawan Rikson Karundeng membawakan materi penulisan cerita dongeng dan legenda.
Akademisi Institut Agama Kristen Negeri (IAKN) Manado Denni Pinontoan menyampaikan teknik penulisan cerpen, sedangkan sastrawan sekaligus Director Mawale Movement Greenhil Weol membawakan materi penulisan puisi.
Melalui pelatihan tersebut, Sanggar Kamang Wangko Woloan berharap lahir generasi penulis muda yang mampu berkarya secara konsisten serta memperkaya khazanah sastra daerah.
Program ini juga diharapkan menjadi langkah awal pembinaan sastra yang berkelanjutan guna memperkuat pelestarian bahasa, sastra, dan kebudayaan lokal sebagai bagian penting dari identitas Sulawesi Utara.
- Penulis: (**/ML)



Saat ini belum ada komentar