Empat Oknum TNI Jadi Tersangka Teror Air Keras Aktivis KontraS, CCTV Bongkar Pola Aksi Terencana
- account_circle rafael
- calendar_month Rabu, 18 Mar 2026
- visibility 800
- comment 0 komentar
- print Cetak
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Para pelaku diduga telah membuntuti korban sejak sore hari sebelum eksekusi dilakukan. Rekaman CCTV memperlihatkan empat pelaku yang menggunakan dua sepeda motor bergerak dari Jakarta Selatan menuju titik kumpul di sekitar Stasiun Gambir.
Mereka kemudian terlihat menunggu di depan KFC Cikini sebelum mengikuti pergerakan korban hingga lokasi kejadian di Jalan Salemba.
Dalam salah satu rekaman krusial, wajah terduga eksekutor bahkan sempat terekam jelas saat belum menggunakan helm. Polisi juga mengidentifikasi perubahan pakaian pelaku setelah kejadian, termasuk dugaan bahwa pakaian luar dilepas karena terkena cairan berbahaya. Di sekitar lokasi kejadian, aparat menemukan helm yang diduga dibuang pelaku dan kini tengah diuji di laboratorium forensik.
Iman menegaskan seluruh bukti rekaman yang digunakan dalam penyelidikan adalah otentik dan tidak mengalami manipulasi digital. Pernyataan ini sekaligus menepis potensi keraguan publik terhadap keaslian bukti yang beredar.
Meski empat tersangka telah ditetapkan, motif di balik serangan masih belum diungkap secara terang.
Aparat baru memastikan bahwa dua tersangka diduga berperan sebagai eksekutor di lapangan, sementara kemungkinan adanya aktor intelektual masih dalam pendalaman.
Ketertutupan pada aspek motif inilah yang memicu tekanan publik agar penyelidikan tidak berhenti pada pelaku teknis semata.
Kasus ini pun melampaui batas kriminalitas biasa. Serangan terhadap aktivis HAM dinilai sebagai bentuk teror yang berpotensi membungkam suara kritis masyarakat sipil.
Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Budi Hermanto menegaskan komitmen kepolisian untuk mengusut tuntas perkara ini hingga ke dalang utama.
Penetapan anggota TNI sebagai tersangka memang menjadi langkah maju, namun belum cukup untuk meredam kecurigaan publik. Desakan agar motif, jaringan, dan kemungkinan keterlibatan pihak lain dibuka secara transparan terus menguat.
Jika tidak dituntaskan hingga ke akar, kasus ini berpotensi menjadi preseden buruk bagi perlindungan aktivis dan kualitas demokrasi di Indonesia.
[**/VIC]
- Penulis: rafael



Saat ini belum ada komentar