Utang Luar Negeri Indonesia Tembus US$437,9 Miliar
- account_circle (**/VIC)
- calendar_month Rabu, 15 Apr 2026
- visibility 261
- comment 0 komentar
- print Cetak

Gambar ilustrasi
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
JAKARTA, PRONEWS5.COM — Posisi Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia pada Februari 2026 tercatat sebesar US$437,9 miliar atau meningkat dibandingkan bulan sebelumnya sebesar US$434,9 miliar. Secara tahunan, ULN tumbuh 2,5 persen (year on year/yoy), mendorong masuknya aliran modal asing ke instrumen moneter Bank Indonesia, sementara otoritas menegaskan struktur utang tetap sehat dan terkendali. Data ini dilansir dari siaran pers resmi Bank Indonesia, 15 April 2026.
Kenaikan ULN Indonesia terutama berasal dari sektor publik khususnya Bank Indonesia, seiring dengan meningkatnya kepemilikan non-residen pada Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).
Instrumen ini menjadi magnet bagi investor global di tengah dinamika pasar keuangan internasional dan kebijakan moneter yang pro-pasar.
Berdasarkan siaran pers resmi Bank Indonesia tertanggal 15 April 2026, ULN pemerintah tercatat sebesar US$215,9 miliar atau tumbuh 5,5 persen (yoy), sedikit melambat dibandingkan bulan sebelumnya.
Pertumbuhan ini dipengaruhi oleh penurunan posisi surat utang, meskipun tetap diarahkan untuk strategi pembiayaan sektor-sektor.
Alokasi terbesar digunakan untuk sektor jasa kesehatan dan kegiatan sosial (22,0 persen), diikuti administrasi pemerintahan, keamanan, dan jaminan sosial wajib (20,3 persen), pendidikan (16,2 persen), konstruksi (11,6 persen), serta transportasi dan pergudangan (8,5 persen).
Secara struktur, ULN pemerintah mendominasi utang jangka panjang dengan porsi mencapai 99,98 persen, mencerminkan pengelolaan utang yang konservatif dan terukur.
Sementara itu, ULN swasta pada Februari 2026 tercatat sebesar US$193,7 miliar atau turun 0,7 persen (yoy). Penurunan terjadi baik pada lembaga keuangan yang turun 2,8 persen maupun perusahaan non-keuangan yang turun 0,2 persen.
ULN swasta masih fokus pada sektor industri pengolahan, jasa keuangan dan asuransi, pengadaan listrik dan gas, serta pertambangan dan kesukaan, dengan total pangsa mencapai 80,3 persen. Dari sisi tenor, utang jangka panjang mendominasi sebesar 76,0 persen.
Bank Indonesia menegaskan struktur ULN Indonesia tetap sehat. Hal ini tercermin dari rasio ULN terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) sebesar 29,8 persen serta dominasi utang jangka panjang sebesar 84,9 persen dari total ULN.
Secara analitis, peningkatan ULN—terutama dari sisi bank sentral—tidak hanya mencerminkan kebutuhan pembiayaan, tetapi juga strategi menjaga stabilitas nilai tukar rupiah melalui instrumen pasar seperti SRBI. Meski demikian, eksposur terhadap arus modal asing tetap menjadi faktor yang harus diperhatikan di tengah volatilitas global.
- Penulis: (**/VIC)



Saat ini belum ada komentar