Jelang TIFF 2026, Handiyana dan Jajaran BPJN Didesak Dievaluasi Usai Pagar Ambruk di Jalur Vital Sulut
- account_circle Red Pronews
- calendar_month Kamis, 11 Jun 2026
- visibility 372
- comment 0 komentar
- print Cetak

Kondisi pagar pengaman darurat yang ambruk di titik rawan longsor KM 20 ruas Jalan Nasional Manado–Tomohon, Kelurahan Tinoor Satu, Kecamatan Tomohon Utara. (Foto: ist/dok)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
TOMOHON, PRONews5.com – Menjelang pelaksanaan Tomohon International Flower Festival (TIFF) 2026, kondisi infrastruktur di ruas Jalan Nasional Manado–Tomohon kembali menjadi perhatian. Pagar pengaman darurat yang terpasang di titik rawan longsor KM 20 dari Zero Point Manado, tepatnya di Kelurahan Tinoor Satu, Kecamatan Tomohon Utara, dilaporkan ambruk akibat pergerakan tanah di lokasi tersebut.
Peristiwa itu memicu desakan agar Kementerian Pekerjaan Umum (PU) segera melakukan evaluasi terhadap kinerja Kepala Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) Sulawesi Utara, Handiyana, beserta jajarannya.
Pasalnya, titik rawan longsor tersebut telah lama menjadi perhatian masyarakat, namun hingga kini belum terlihat adanya penanganan permanen yang mampu memberikan perlindungan maksimal terhadap badan jalan.
Berdasarkan dokumentasi lapangan yang diperoleh PRONews5.com, pagar pengaman sementara yang terbuat dari kayu dan seng tampak roboh ke arah lereng. Kondisi tanah di sekitar lokasi juga menunjukkan indikasi pergerakan yang masih berlangsung sehingga menimbulkan kekhawatiran akan potensi longsor susulan.
Aktivis antikorupsi Sulawesi Utara, Eddy Rompas, menilai ambruknya pagar pengaman menjadi indikator bahwa penanganan di lokasi tersebut belum berjalan optimal.
“Kemarin saya sempat melihat langsung pagar pengaman itu sudah rubuh. Ini tidak boleh dianggap sepele karena menyangkut keselamatan masyarakat.
Penanganannya harus segera dilakukan sebelum menimbulkan kerusakan yang lebih besar,” kata Eddy Rompas, Kamis (11/6/2026).
Menurutnya, ruas Jalan Nasional Manado–Tomohon merupakan jalur strategis yang memiliki peran penting dalam menunjang mobilitas masyarakat dan perekonomian daerah. Karena itu, setiap ancaman terhadap keberlangsungan akses jalan harus direspons secara cepat dan serius.
“Jangan sampai badan jalan ikut tergerus atau bahkan putus. Kalau itu terjadi, dampaknya bukan hanya terhadap pengguna jalan, tetapi juga aktivitas ekonomi masyarakat yang sangat bergantung pada jalur ini,” ujarnya.
Eddy menegaskan bahwa langkah penanganan tidak boleh berhenti pada pemasangan pagar darurat semata. Ia meminta adanya solusi permanen berupa penguatan lereng dan perlindungan badan jalan agar risiko longsor dapat diminimalkan.
Ia juga mendesak Menteri Pekerjaan Umum, Dody Hanggodo, untuk mengevaluasi kinerja BPJN Sulawesi Utara dalam menangani titik-titik rawan longsor, khususnya pada ruas Jalan Nasional Manado–Tomohon yang selama ini dikenal memiliki tingkat kerawanan tinggi saat musim hujan.
“Sebentar lagi TIFF 2026 digelar. Akan ada tamu nasional, wisatawan, bahkan delegasi dari luar negeri yang datang ke Tomohon. Infrastruktur jalan harus dipastikan aman dan layak. Jangan sampai daerah menjadi tuan rumah agenda internasional, tetapi persoalan keselamatan di jalur utama justru terabaikan,” tegasnya.
Keluhan serupa disampaikan sejumlah warga dan pengguna jalan yang melintas di kawasan tersebut. Mereka khawatir kondisi lereng yang terus mengalami pergerakan dapat memicu longsor yang lebih besar apabila hujan dengan intensitas tinggi kembali terjadi.
Menurut warga, pagar pengaman yang kini ambruk telah dipasang cukup lama sebagai langkah penanganan sementara. Namun hingga saat ini belum terlihat adanya pembangunan konstruksi permanen yang dinilai mampu memberikan perlindungan jangka panjang terhadap badan jalan.
Kondisi tersebut memunculkan pertanyaan mengenai efektivitas penanganan yang selama ini dilakukan pada titik rawan longsor tersebut. Sebab, keberadaan pagar darurat pada dasarnya hanya berfungsi sebagai pengaman sementara dan tidak menyelesaikan persoalan utama berupa stabilitas lereng.
Ruas Jalan Nasional Manado–Tomohon sendiri merupakan salah satu jalur transportasi paling vital di Sulawesi Utara. Setiap hari, ribuan kendaraan pribadi, angkutan umum, kendaraan logistik, hingga kendaraan wisata melintasi jalur tersebut. Kerusakan pada ruas jalan ini berpotensi menimbulkan dampak luas terhadap mobilitas masyarakat, distribusi barang, serta sektor pariwisata daerah.
Hingga berita ini diterbitkan, pihak BPJN Sulawesi Utara belum memberikan tanggapan resmi terkait penyebab ambruknya pagar pengaman maupun langkah penanganan yang akan dilakukan.
PRONews5.com telah berupaya menghubungi Kepala BPJN Sulawesi Utara, Handiyana, melalui pesan WhatsApp untuk meminta konfirmasi. Namun hingga berita ini dipublikasikan, belum ada respons yang diberikan.
[**/ARP]
- Penulis: Red Pronews



Saat ini belum ada komentar