Patahan Raksasa di Bawah Sulawesi Terungkap, Ilmuwan Ingatkan Potensi Tsunami Besar
- account_circle [**/WIL]
- calendar_month Senin, 13 Apr 2026
- visibility 1.103
- comment 0 komentar
- print Cetak

Ilustrasi Patahan Palu-Koro yang membelah kerak Bumi di bawah Laut Sulawesi. Sambungan antar-sesar dan tipisnya kerak laut (8 km) ini berpotensi memicu guncangan tektonik dan tsunami besar.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
PRONEWS5.COM — Penelitian terbaru mengungkap keberadaan patahan raksasa di bawah Pulau Sulawesi yang berpotensi memicu tsunami besar. Temuan ini memperkuat kekhawatiran bahwa aktivitas gempa di daratan Sulawesi tidak hanya berdampak di darat, tetapi juga dapat mengguncang dasar laut secara signifikan.
Dilansir dari CNBC Indonesia, Minggu (12/04/2026) pukul 16.30 WIB, patahan tersebut merupakan bagian dari sistem Sesar Palu-Koro yang memanjang hingga ke dasar Laut Sulawesi.
Peneliti Tang Tingwei dari Chinese Academy of Sciences mengungkapkan bahwa struktur patahan ini terhubung langsung antara daratan dan sistem bawah laut, sehingga berpotensi memicu gangguan besar di lautan.
Penelitian menunjukkan adanya perbedaan mencolok pada ketebalan kerak bumi di wilayah tersebut. Di bawah Laut Sulawesi, ketebalan kerak hanya sekitar 8 kilometer, jauh lebih tipis dibandingkan wilayah sekitarnya yang mencapai 26 kilometer.
Bahkan, pada bagian utara, kedalaman bisa mencapai 30 kilometer. Kondisi ini menandakan adanya sambungan kompleks antar sesar yang dapat memperbesar akumulasi tekanan tektonik.
Perbedaan karakteristik kerak bumi ini menjadi faktor penting dalam memicu gempa besar. Tekanan biasanya terfokus pada zona pertemuan antara kerak tipis dan tebal, yang berpotensi menghasilkan deformasi ekstrem di dasar laut.
Fenomena ini diyakini menjadi salah satu penjelasan atas dahsyatnya tsunami dalam peristiwa Gempa dan Tsunami Palu 2018. Saat itu, gempa bermagnitudo besar yang mengguncang pada 28 September 2018 memicu tsunami setinggi hampir 11 meter di pesisir barat Sulawesi—angka yang jauh di luar perkiraan ilmiah sebelumnya.
Secara umum, pergerakan sesar mendatar seperti Palu-Koro tidak menghasilkan tsunami besar. Namun dalam kasus Palu, patahan bergerak sangat cepat hingga dikategorikan sebagai fenomena supershear, yakni pergerakan patahan dengan kecepatan melebihi gelombang geser.
Kondisi ini menyebabkan dasar laut mengalami deformasi drastis—membengkok dan turun—yang kemudian memicu gelombang tsunami besar.
Temuan terbaru ini menegaskan bahwa aktivitas gempa di Sulawesi memiliki dampak ganda: tidak hanya merusak daratan, tetapi juga dapat menggerakkan sistem bawah laut secara luas.
- Penulis: [**/WIL]
- Sumber: CNBC Indonesia



Saat ini belum ada komentar