Peringati 30 Tahun Kudatuli, Megawati Kritik Keras TNI-Polri: Kembali ke Rakyat, Jangan Jadi Alat Kekuasaan!
- account_circle (**/VIC)
- calendar_month Selasa, 28 Jul 2026
- visibility 172
- comment 0 komentar
- print Cetak

Megawati Soekarnoputri menyampaikan pidato politik saat peresmian Monumen Kudatuli di Kantor DPP PDI Perjuangan, Jakarta, Senin (27/7/2026).
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
JAKARTA, PRONEWS5.COM – Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan sekaligus Presiden ke-5 RI Megawati Soekarnoputri melontarkan kritik tajam terhadap peran Tentara Nasional Indonesia (TNI) dan Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) saat memperingati 30 tahun Peristiwa Kudatuli.
Dalam pidato politiknya di Kantor DPP PDI Perjuangan, Menteng, Jakarta Pusat, Senin (27/7/2026), Megawati mengingatkan agar aparat kembali menjalankan mandat konstitusional sebagai pelindung rakyat, bukan menjadi instrumen kepentingan politik atau kekuasaan.
Pernyataan tersebut disampaikan bersamaan dengan peresmian Monumen Peristiwa Kudatuli, yang dibangun sebagai pengingat tragedi 27 Juli 1996.
Di hadapan ratusan kader partai dan sejumlah tokoh nasional, Megawati menegaskan bahwa TNI dan Polri lahir dari rakyat sehingga harus berpihak pada kepentingan bangsa, bukan kepada kelompok atau penguasa tertentu.
“Hei TNI, hei Polisi, kalian datang dari mana? Bela rakyatmu!” tegas Megawati dalam pidatonya.
Menurut Megawati, profesionalisme aparat menjadi fondasi utama dalam menjaga demokrasi dan negara hukum.
Ia mengingatkan bahwa fungsi pertahanan dan keamanan tidak boleh bergeser ke ranah politik praktis maupun digunakan untuk membatasi ruang demokrasi masyarakat.
Selain menyoroti peran aparat, Megawati juga mengkritik penegakan hukum yang dinilai belum memberikan rasa keadilan kepada masyarakat.
Ia menyinggung maraknya akun-akun media sosial yang disebut kerap menyebarkan provokasi dan perpecahan, namun dinilai belum ditindak secara konsisten sehingga berpotensi mengurangi kepercayaan publik terhadap institusi penegak hukum.
Dalam pidatonya, Megawati menyampaikan bahwa Monumen Kudatuli bukan dibangun untuk memelihara dendam atas tragedi masa lalu, melainkan menjadi pengingat sejarah agar penyalahgunaan kekuasaan dan penggunaan kekuatan negara terhadap rakyat tidak kembali terulang.
Ia juga mengajak seluruh elemen bangsa untuk terus menjaga semangat reformasi, menghormati demokrasi konstitusional, serta memastikan aparat negara tetap berada pada koridor profesionalisme dan kepentingan nasional.
Menutup pidatonya, Megawati menegaskan bahwa kekuatan rakyat tidak dapat dibungkam.
Menurutnya, aspirasi masyarakat akan selalu menemukan jalannya ketika keadilan diperjuangkan secara konstitusional, sehingga seluruh penyelenggara negara harus tetap menjadikan rakyat sebagai orientasi utama dalam setiap kebijakan.
- Penulis: (**/VIC)



Saat ini belum ada komentar