Bukan Sekadar Coffee Morning Kapolda Yudo Ajak Ormas Adat Jaga Keamanan Sulut
- account_circle (**/ARP)
- calendar_month Rabu, 4 Nov 2026
- visibility 55
- comment 0 komentar
- print Cetak

Kapolda Sulawesi Utara Irjen Pol Yudo Hermanto saat menggelar silaturahmi dan coffee morning bersama pimpinan serta perwakilan ormas adat Minahasa di Tateli, Senin (2/11/2026).
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
MANADO, PRONEWS5.COM – Kapolda Sulawesi Utara (Sulut) Irjen Pol Yudo Hermanto mengajak organisasi kemasyarakatan (ormas) adat Minahasa memperkuat kolaborasi dengan kepolisian dalam menjaga stabilitas keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas). Sinergi lintas elemen tersebut dinilai menjadi salah satu fondasi penting dalam menciptakan situasi daerah yang aman, harmonis, dan kondusif.
Komitmen itu disampaikan Yudo saat menggelar silaturahmi dan coffee morning bersama sejumlah perwakilan ormas adat Minahasa di Tateli, Senin (2/11/2026). Pertemuan tersebut menjadi ruang komunikasi langsung antara pimpinan Polda Sulut dengan tokoh-tokoh organisasi adat untuk membangun hubungan kemitraan sekaligus memperkuat koordinasi dalam menjaga keamanan daerah.
Dalam pertemuan itu, Yudo memperkenalkan diri sebagai Kapolda Sulut yang baru. Ia juga menyampaikan permohonan penerimaan serta dukungan masyarakat terhadap pelaksanaan tugasnya di Bumi Nyiur Melambai.
Menurutnya, keberhasilan institusi kepolisian dalam menjalankan fungsi pemeliharaan keamanan tidak dapat dilepaskan dari partisipasi aktif masyarakat. Dukungan organisasi adat, tokoh masyarakat, dan berbagai elemen sosial diperlukan agar upaya menjaga ketertiban dapat berlangsung secara kolektif.
Yudo menjelaskan, gangguan keamanan berpotensi menimbulkan dampak berantai terhadap kehidupan masyarakat. Ketika situasi kamtibmas tidak terkendali, aktivitas pendidikan, pelayanan pemerintahan, perkantoran hingga kegiatan ekonomi dapat terganggu.
Atas dasar itu, ia mendorong seluruh ormas adat untuk membangun komunikasi yang terbuka, meningkatkan koordinasi, serta mengembangkan pola kerja sama yang konstruktif bersama jajaran kepolisian.
“Tugas-tugas Polri tidak akan berhasil dan sukses apabila tidak mendapat dukungan dari seluruh komponen masyarakat,” tegas Yudo.
Kapolda juga menekankan bahwa konsep Polisi Bersama Masyarakat harus diterjemahkan ke dalam tindakan nyata. Kehadiran polisi, menurutnya, tidak cukup hanya melalui kegiatan formal, tetapi harus diwujudkan dengan keterlibatan langsung di tengah kehidupan masyarakat.
Ia menginginkan jajaran kepolisian bersikap terbuka terhadap aspirasi, pengaduan, maupun evaluasi yang disampaikan warga. Bahkan, kritik yang disampaikan secara konstruktif harus menjadi bahan perbaikan dalam meningkatkan kualitas pelayanan kepolisian.
“Polri tidak antikritik. Kritik-kritik yang membangun akan saya apresiasi dan terima dengan baik,” ungkapnya.
Selain memperkuat kemitraan, Yudo mengingatkan masyarakat agar memanfaatkan fasilitas pelayanan kepolisian ketika menghadapi persoalan keamanan maupun membutuhkan bantuan segera.
Ia secara khusus menyosialisasikan layanan Call Center 110 sebagai saluran pengaduan dan permintaan bantuan kepolisian. Melalui layanan tersebut, masyarakat dapat menghubungi aparat untuk memperoleh respons sesuai kebutuhan penanganan, dengan koordinasi bersama kantor kepolisian terdekat, mulai dari tingkat polsek, polres hingga polda.
Sementara itu, Ketua Laskar Manguni Indonesia, Pdt Hanny Pantouw, memberikan apresiasi terhadap pendekatan komunikasi yang dilakukan Kapolda Sulut dengan melibatkan langsung organisasi adat.
Menurut Hanny, pertemuan tersebut merupakan bentuk implementasi konkret dari semangat Polisi Bersama Masyarakat. Dialog langsung dengan para tokoh organisasi dinilainya dapat memperkuat hubungan kelembagaan sekaligus memperluas penyampaian pesan-pesan perdamaian di tengah masyarakat.
Ia menilai ormas adat memiliki posisi strategis karena mempunyai jaringan sosial dan kedekatan dengan berbagai kelompok masyarakat. Potensi tersebut dapat dimanfaatkan untuk membangun kesadaran kolektif mengenai pentingnya toleransi, persatuan, dan pencegahan konflik sosial.
Hanny pun menyatakan kesiapan organisasi adat untuk mengambil bagian dalam menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), termasuk mencegah gesekan berlatar belakang agama serta tawuran antarkampung (tarkam).
“Ini merupakan awal yang baik. Kami berkomitmen bersama Pak Kapolda dan seluruh jajaran untuk menjaga NKRI, mencegah perselisihan antarumat beragama, serta mengantisipasi tawuran antarkampung. Bersama kita bisa,” ujarnya.
Kegiatan tersebut turut dihadiri sejumlah Pejabat Utama Polda Sulut, Kapolresta Manado Kombes Pol Irham Halid, serta perwakilan berbagai organisasi adat Minahasa.
Pertemuan ini diharapkan menjadi landasan penguatan komunikasi berkelanjutan antara kepolisian dan organisasi masyarakat. Dengan kolaborasi yang terarah, upaya menjaga stabilitas keamanan di Sulawesi Utara diharapkan tidak hanya bertumpu pada penegakan hukum, tetapi juga tumbuh melalui kesadaran, partisipasi, dan tanggung jawab bersama masyarakat.
- Penulis: (**/ARP)



Saat ini belum ada komentar