Sekprov Sulut Tahlis Gallang Tegaskan Rekaman Suara 11 Detik “Gubernur Pasti Dengar Pakita” Itu Hoaks
- account_circle (**/ARP)
- calendar_month Selasa, 4 Agt 2026
- visibility 806
- comment 0 komentar
- print Cetak

Tangkapan layar rekaman suara berdurasi 11 detik yang beredar di media sosial dan mengatasnamakan Sekprov Sulut Tahlis Gallang. Rekaman tersebut telah diklarifikasi sebagai hoaks dan bukan pernyataan resmi.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
MANADO, PRONEWS5.COM – Rekaman suara berdurasi 11 detik yang beredar luas di berbagai platform media sosial dengan narasi, “Kita janji pangoni Gubernur pasti dengar pakita, mar jangan lupa berbagi hasil kamari,” telah diklarifikasi oleh Sekretaris Daerah Provinsi Sulawesi Utara (Sekprov Sulut), Tahlis Gallang.
Tahlis Gallang menegaskan bahwa rekaman suara tersebut bukan pernyataan resmi dirinya, melainkan informasi palsu (hoaks). Ia mengimbau masyarakat agar tidak mudah mempercayai maupun menyebarluaskan rekaman tersebut sebelum memastikan kebenarannya melalui sumber resmi.
Penegasan itu disampaikan Tahlis Gallang saat dikonfirmasi PRONEWS5.COM pada Senin (3/8/2026) malam, menyusul beredarnya potongan rekaman suara yang memuat narasi ajakan dengan mengatasnamakan dirinya.
“Itu rekaman suara palsu,” tegas Tahlis saat memberikan klarifikasi kepada PRONEWS5.COM.
Klarifikasi tersebut menjadi penting mengingat rekaman suara tanpa sumber yang jelas berpotensi menyesatkan masyarakat, memicu kesalahpahaman, bahkan menciptakan keresahan apabila dipercaya sebagai pernyataan resmi pejabat pemerintah.
Menanggapi beredarnya rekaman itu, tokoh masyarakat Kota Tomohon, Hanny Meruntu, mengingatkan masyarakat agar selalu memverifikasi setiap informasi yang diterima melalui kanal resmi pemerintah maupun media yang kredibel.
Menurutnya, masyarakat tidak boleh mudah percaya terhadap rekaman suara yang diproduksi oleh pihak yang tidak bertanggung jawab tanpa identitas dan sumber yang dapat dipertanggungjawabkan.
“Jangan mudah percaya dan jangan langsung menyebarluaskan informasi yang belum jelas asal-usulnya. Selalu cek kebenarannya melalui saluran resmi,” ujar Hanny.
Ia menilai perkembangan teknologi, khususnya kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), memungkinkan seseorang membuat rekaman suara yang menyerupai suara tokoh tertentu sehingga sulit dibedakan dengan suara asli.
Dari hasil penelusuran terhadap rekaman yang beredar, terdapat indikasi bahwa audio tersebut diduga mengalami pemotongan konteks maupun kemungkinan rekayasa menggunakan teknologi AI Voice Over atau teknik manipulasi audio lainnya.
Pandangan serupa disampaikan tokoh masyarakat Minahasa, Noldi Lila alias Budo Toliang. Menurutnya, masyarakat harus semakin cerdas menghadapi perkembangan teknologi digital yang saat ini berkembang sangat cepat.
“Di era AI sekarang ini, masyarakat harus mampu membedakan mana informasi yang sudah terverifikasi dan mana yang hanya hoaks. Banyak akun palsu berkeliaran di media sosial. Karena itu, saring sebelum sharing,” katanya.
Ia mengajak masyarakat untuk tidak mudah terprovokasi oleh pesan suara maupun informasi digital yang tidak mencantumkan identitas pengirim serta tidak memiliki sumber yang jelas.
Para tokoh masyarakat berharap masyarakat Sulawesi Utara semakin bijak dalam menggunakan media sosial dengan mengutamakan verifikasi informasi sebelum menyebarkannya.
Langkah tersebut dinilai penting untuk menjaga ketertiban, mencegah penyebaran disinformasi, serta mendukung terciptanya ruang digital yang sehat.
Di tengah pesatnya perkembangan teknologi, literasi digital menjadi salah satu kunci agar masyarakat tidak mudah menjadi korban maupun penyebar hoaks.

- Penulis: (**/ARP)



Saat ini belum ada komentar