Rekor Berpihak ke Argentina, Mampukah Swiss Hentikan Langkah Messi?
- account_circle (**/ARP)
- calendar_month Sabtu, 11 Jul 2026
- visibility 190
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
KANSAS CITY, PRONEWS5.COM – Juara bertahan Argentina kembali menghadapi ujian berat saat bertemu Swiss pada babak perempat final Piala Dunia 2026. Duel yang digelar di GEHA Field at Arrowhead Stadium, Kansas City, Missouri, Amerika Serikat, Minggu (12/7/2026) pukul 08.00 WIB itu menjadi penentu langkah kedua tim menuju semifinal.
Laga ini mempertemukan dua tim dengan karakter berbeda. Argentina datang sebagai favorit berbekal rekor sempurna sepanjang turnamen dan ketajaman lini serang yang dipimpin Lionel Messi.
Sebaliknya, Swiss mengandalkan organisasi pertahanan yang disiplin serta efektivitas permainan kolektif untuk menciptakan kejutan.
Argentina memastikan tiket perempat final setelah melalui pertandingan dramatis melawan Mesir.
Sempat tertinggal dua gol, skuad asuhan Lionel Scaloni bangkit dan membalikkan keadaan menjadi kemenangan 3-2. Kebangkitan tersebut mempertegas mental juara yang masih dimiliki Albiceleste sebagai pemegang gelar Piala Dunia.
Di sisi lain, Swiss melangkah ke delapan besar usai menyingkirkan Kolombia melalui drama adu penalti setelah bermain imbang tanpa gol selama 120 menit.
Keberhasilan itu menjadi pencapaian terbaik Swiss di Piala Dunia sejak 1954.
Sorotan utama kembali tertuju kepada Lionel Messi.
Penyerang berusia 39 tahun itu masih menjadi tumpuan Argentina setelah mengoleksi delapan gol dan memimpin daftar pencetak gol terbanyak sementara turnamen.
Pengalaman, visi bermain, dan penyelesaian akhirnya diperkirakan kembali menjadi faktor pembeda dalam laga penting tersebut.
Meski demikian, Swiss bukan lawan yang mudah ditembus. Tim berjuluk Rossocrociati tampil sebagai salah satu tim dengan pertahanan paling kokoh di turnamen.
Dari lima pertandingan, Swiss baru kebobolan tiga gol dan belum pernah berada dalam posisi tertinggal sejak fase kualifikasi hingga babak gugur.
Namun, kekuatan Swiss sedikit berkurang setelah penyerang muda Johan Manzambi dipastikan absen akibat cedera lutut.
Selain itu, Michael Aebischer dan Luca Jaquez juga diperkirakan tidak dapat memperkuat tim sehingga pilihan pelatih di lini tengah dan belakang menjadi lebih terbatas.
Secara statistik, Argentina lebih unggul hampir di seluruh aspek. Dari lima pertandingan, Albiceleste mencetak 14 gol dengan rekor lima kemenangan beruntun.
Swiss mengoleksi sembilan gol, empat kemenangan, dan satu hasil imbang.
Dominasi Argentina juga terlihat dari catatan pertemuan kedua tim.
Dalam tujuh laga internasional, Argentina meraih lima kemenangan dan dua pertandingan lainnya berakhir imbang. Swiss belum pernah mengalahkan Argentina.
Pertemuan terakhir di Piala Dunia terjadi pada babak 16 besar edisi 2014 ketika Argentina menang 1-0 melalui gol Ángel Di María pada babak perpanjangan waktu.
Diperkirakan, Lionel Scaloni tetap mempertahankan formasi 4-3-1-2 dengan Emiliano Martinez di bawah mistar gawang.
Lini belakang dihuni Nahuel Molina, Cristian Romero, Lisandro Martinez, dan Nicolas Tagliafico. Rodrigo De Paul, Leandro Paredes, serta Enzo Fernandez menjadi penyeimbang di lini tengah, didukung Alexis Mac Allister sebagai pengatur serangan di belakang duet Lionel Messi dan Lautaro Martinez.
Swiss kemungkinan tampil dengan formasi 4-2-3-1 yang mengandalkan Gregor Kobel di bawah mistar.
Lini pertahanan dipimpin Manuel Akanji dan Nico Elvedi, sementara Granit Xhaka tetap menjadi motor permainan di sektor tengah bersama Remo Freuler.
Berdasarkan simulasi superkomputer Opta terhadap 25.000 skenario pertandingan, Argentina memiliki peluang kemenangan pada waktu normal sebesar 57,1 persen, sedangkan Swiss 18,7 persen dan peluang hasil imbang mencapai 24,2 persen.
Jika memperhitungkan babak tambahan dan adu penalti, peluang Argentina lolos ke semifinal meningkat menjadi sekitar 69,4 persen.
Meski statistik berpihak kepada Argentina, pertandingan diperkirakan berlangsung ketat. Swiss memiliki disiplin bertahan yang mampu meredam tekanan lawan, sementara Argentina mengandalkan kualitas individu para pemain bintangnya untuk memecah kebuntuan.
Pemenang laga ini akan menghadapi pemenang pertandingan Inggris kontra Norwegia pada babak semifinal.
Dengan sejarah, statistik, dan kualitas skuad yang dimiliki, Argentina memang berada di posisi unggulan.
Namun dalam fase gugur Piala Dunia, efektivitas memanfaatkan peluang dan ketenangan menghadapi tekanan sering kali menjadi faktor penentu yang mengubah seluruh prediksi.
- Penulis: (**/ARP)



Saat ini belum ada komentar