Mantan Kader PDIP Gabung PSI, Franciscus Enoch: Berbeda Pilihan Politik Sah, Jangan Lupakan Sejarah Perjuangan
- account_circle (**/ARP)
- calendar_month Senin, 6 Jul 2026
- visibility 569
- comment 0 komentar
- print Cetak

Fransiscus Joel Patrik Enoch, S.H.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
MANADO, PRONEWS5.COM – Anggota DPRD Minahasa sekaligus kader PDI Perjuangan, Franciscus Enoch, menanggapi keputusan mantan kader PDIP, James Sumendap, yang memilih bergabung dengan Partai Solidaritas Indonesia (PSI).
Menurut Franciscus Enoch, perpindahan partai merupakan hak politik setiap warga negara yang dijamin dalam sistem demokrasi.
Namun, ia mengingatkan agar setiap keputusan politik tetap disertai penghormatan terhadap sejarah perjuangan dan perjalanan politik yang telah dibangun bersama.
“Setiap orang memiliki hak menentukan pilihan politiknya. Kami menghormati keputusan tersebut.
Namun, yang juga harus dihormati adalah fakta sejarah bahwa PDI Perjuangan telah memberikan ruang pengabdian dan kepercayaan politik yang sangat besar kepada Bapak James Sumendap,” ujar Franciscus Enoch di Manado, Sabtu (4/7/2026).
Ia mengungkapkan, James Sumendap memperoleh mandat dari PDI Perjuangan untuk memimpin Kabupaten Minahasa Tenggara selama dua periode, yakni 2013–2023.
Setelah mengakhiri masa jabatannya sebagai kepala daerah, partai berlambang banteng itu kembali memberikan kepercayaan dengan mengusungnya sebagai calon anggota DPR RI pada Pemilu 2024.
“Hal itu menunjukkan bahwa kepercayaan partai terhadap beliau tidak pernah setengah hati.
Karena itu, sangat disayangkan apabila setelah memilih jalan politik yang berbeda justru muncul narasi yang cenderung mendiskreditkan partai yang selama ini menjadi rumah perjuangannya,” katanya.
Franciscus menegaskan, perbedaan pandangan politik merupakan hal yang lumrah dalam kehidupan demokrasi. Namun, menurutnya, kedewasaan berpolitik tercermin dari kemampuan menghargai proses, rekam jejak, dan sejarah, bukan dengan membangun opini yang mengaburkan fakta perjalanan politik.
“Politik adalah tentang gagasan dan pengabdian, bukan tentang menghapus jejak sejarah.
Tidak ada salahnya memilih jalan yang berbeda, tetapi akan lebih bermartabat apabila dilakukan tanpa harus merendahkan rumah yang pernah memberikan kepercayaan dan kesempatan untuk mengabdi kepada rakyat,” tegasnya.
Ia juga menekankan bahwa PDI Perjuangan merupakan partai ideologis yang dibangun di atas fondasi nasionalisme, semangat perjuangan, dan keberpihakan kepada rakyat, sehingga tidak bergantung pada figur tertentu.
“PDI Perjuangan telah melewati berbagai dinamika politik, baik di tingkat nasional maupun daerah.
Kader datang dan pergi adalah hal yang biasa. Namun ideologi, loyalitas, dan komitmen kepada rakyat akan tetap menjadi fondasi utama partai ini.
Masyarakat tentu mampu menilai siapa yang tetap konsisten menjaga komitmen perjuangan dan siapa yang baru mengubah sikap politik setelah memperoleh berbagai kesempatan dan kepercayaan,” ujarnya.
Menutup pernyataannya, Franciscus mengajak seluruh kader PDI Perjuangan tetap solid menghadapi dinamika politik dengan mengedepankan kerja nyata bagi masyarakat.
“Kami tidak ingin membalas dengan narasi yang menyerang pribadi. Jawaban terbaik adalah terus bekerja untuk rakyat, menjaga marwah partai, serta membuktikan bahwa PDI Perjuangan tetap menjadi rumah perjuangan yang melahirkan pemimpin-pemimpin yang berkomitmen kepada bangsa dan negara,” pungkasnya.
- Penulis: (**/ARP)



Saat ini belum ada komentar