Blunder Gerbong KRL Picu Kegaduhan, Menteri PPPA Akhirnya Minta Maaf
- account_circle (**/VIC)
- calendar_month Kamis, 30 Apr 2026
- visibility 272
- comment 0 komentar
- print Cetak

Menteri PPPA Arifah Fauzi menyampaikan klarifikasi dan permintaan maaf terkait polemik usulan pemindahan gerbong khusus perempuan di KRL. (Foto:Dok)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
JAKARTA | Pronews5.com — Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Arifah Fauzi, menyampaikan permintaan maaf terbuka kepada publik setelah pernyataannya terkait usulan pemindahan gerbong khusus perempuan di KRL ke bagian tengah rangkaian menuai polemik. Pernyataan itu disampaikan melalui akun resmi Kementerian PPPA, Rabu (29/4/2026).
Dalam klarifikasinya, Arifah mengakui bahwa usulan tersebut tidak tepat dan telah menimbulkan ketidaknyamanan di tengah masyarakat. Ia menegaskan, tidak ada niat untuk mengabaikan aspek keselamatan penumpang lain, termasuk laki-laki.
“Saya menyadari bahwa pernyataan tersebut kurang tepat. Untuk itu saya memohon maaf sebesar-besarnya kepada seluruh masyarakat, khususnya kepada para korban dan keluarga korban yang merasa tersakiti atau tidak nyaman,” ujar Arifah.
Polemik ini bermula dari pernyataan Arifah usai menjenguk korban kecelakaan KRL di RSUD Bekasi.
Saat itu, ia mengusulkan agar posisi gerbong khusus perempuan dipindahkan ke tengah rangkaian kereta dengan alasan tertentu.
Namun, pernyataan tersebut justru memicu kritik publik yang menilai kebijakan itu berpotensi mengaburkan prioritas keselamatan secara menyeluruh.
Dalam penjelasannya, Arifah menekankan bahwa keselamatan seluruh penumpang, tanpa memandang gender, merupakan prinsip utama yang harus dijaga dalam sistem transportasi publik.
Ia juga menyampaikan empati mendalam atas korban jiwa dan luka-luka dalam insiden tersebut.
“Kami sangat berduka atas jatuhnya korban jiwa dalam peristiwa ini. Fokus pemerintah saat ini adalah penanganan korban, baik yang meninggal dunia maupun yang luka-luka,” katanya.
Lebih lanjut, Kementerian PPPA memastikan akan memberikan pendampingan psikologis serta perlindungan kepada korban, khususnya anak-anak yang terdampak.
Langkah ini disebut sebagai bagian dari komitmen negara dalam menjamin perlindungan kelompok rentan dalam situasi krisis.
Sejumlah pihak sebelumnya menilai pernyataan Arifah kurang sensitif terhadap isu keselamatan transportasi, sehingga memunculkan reaksi negatif di ruang publik.
- Penulis: (**/VIC)



Saat ini belum ada komentar