Di Depan Prabowo Kiai Hasan Persilakan Santri Kritik dan Demo Jika Hidup Mewah
- account_circle (**/ARP)
- calendar_month Selasa, 22 Sep 2026
- visibility 95
- comment 0 komentar
- print Cetak

KH Hasan Abdullah Sahal menyampaikan pidato di hadapan Presiden Prabowo Subianto dalam Resepsi Kesyukuran 100 Tahun Pondok Modern Darussalam Gontor di Ponorogo, Jawa Timur, Sabtu (19/9/2026).
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
PONOROGO, PRONEWS5.COM — Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG), KH Hasan Abdullah Sahal, menyampaikan pesan tegas tentang kesederhanaan dan keterbukaan seorang pemimpin saat berbicara di hadapan Presiden RI Prabowo Subianto.
Pesan itu disampaikan dalam Resepsi Kesyukuran 100 Tahun Pondok Modern Darussalam Gontor di Balai Pertemuan Pondok Modern (BPPM), Ponorogo, Jawa Timur, Sabtu (19/9/2026).
Dalam pidatonya, KH Hasan menegaskan bahwa seorang pimpinan tidak semestinya menikmati kehidupan yang jauh lebih mewah dibandingkan orang-orang yang dipimpinnya.
Ia bahkan mempersilakan para santri untuk menyampaikan kritik, melakukan protes hingga menggelar demonstrasi apabila dirinya menjalani kehidupan yang dianggap berlebihan dibandingkan para santri.
Pernyataan tersebut disampaikan secara terbuka di hadapan Presiden Prabowo dan para tamu undangan dalam momentum satu abad perjalanan Gontor.
Bagi KH Hasan, ukuran kepemimpinan tidak semata-mata terletak pada jabatan maupun penghormatan yang diterima, tetapi juga pada kesediaan seorang pemimpin menempatkan dirinya dekat dengan kehidupan orang yang dipimpinnya.
Sikap tersebut sekaligus menggambarkan nilai kesederhanaan yang selama ini menjadi bagian dari pendidikan dan kehidupan di lingkungan Gontor.
Sejumlah laporan mengenai pidato tersebut mencatat bahwa KH Hasan secara eksplisit membuka ruang bagi santri untuk mengkritik bahkan mendemonya apabila kehidupannya jauh lebih mewah daripada santri.
Pernyataan KH Hasan menarik perhatian karena disampaikan dalam sebuah forum yang dihadiri langsung Presiden Prabowo.
Di tengah acara yang bersifat seremonial untuk memperingati satu abad Gontor, ia justru memasukkan pesan tentang pentingnya kritik dan kontrol terhadap seorang pemimpin.
Dalam konteks yang disampaikannya, kritik tidak ditempatkan sebagai ancaman terhadap kepemimpinan. Sebaliknya, kritik menjadi bagian dari mekanisme untuk mengingatkan pemimpin agar tidak kehilangan hubungan dengan orang-orang yang dipimpinnya.
Pesan tersebut juga tidak berhenti pada persoalan fasilitas. KH Hasan mengaitkannya dengan nilai pengabdian, keikhlasan dan kesederhanaan yang menjadi bagian dari tradisi pendidikan Gontor.
Dalam pidato yang sama, KH Hasan juga menyinggung fenomena orang yang mengejar pengakuan, nama, uang hingga jabatan.
Dengan gaya bicara yang diselingi humor, ia menyebut fenomena tersebut sebagai bagian dari kebiasaan manusia yang berusaha mendapatkan sesuatu yang dianggap belum dimilikinya.
Candaan itu membuat suasana resepsi lebih cair. Namun di balik humor tersebut, terdapat pesan bahwa pendidikan tidak seharusnya hanya diarahkan untuk memperoleh status sosial atau posisi tertentu.
Laporan mengenai pidatonya juga mencatat KH Hasan sempat melontarkan guyonan soal istilah “cari muka” dan mengingatkan hadirin agar tidak asal memberikan tepuk tangan pada setiap bagian pidatonya.
Memasuki usia satu abad, KH Hasan menegaskan kembali pilihan Gontor untuk menjadikan pendidikan sebagai jalan pengabdian kepada umat dan bangsa.
Gontor berdiri pada 1926 dan pada 2026 memasuki usia 100 tahun. Dalam momentum tersebut, perjalanan panjang pesantren tidak hanya dipandang sebagai catatan masa lalu, tetapi juga sebagai pijakan untuk membangun masa depan.
Dalam pidatonya, KH Hasan menekankan pentingnya membaca sejarah secara bijak.
Menurut pesan yang disampaikannya, generasi sekarang tidak seharusnya hanya menjadi penonton sejarah, tetapi harus mengambil peran dalam membangun sejarah dan peradaban melalui pendidikan.
Pesan itu menjadi salah satu bagian penting dari pidato yang disampaikannya di hadapan Presiden Prabowo.
Resepsi Kesyukuran 100 Tahun Gontor menjadi salah satu agenda penting dalam perjalanan pesantren tersebut.
Selain dihadiri Presiden Prabowo, kegiatan itu diikuti keluarga besar Gontor dan para tamu undangan. Dalam kesempatan tersebut, KH Hasan juga menyerahkan buku Gontor untuk Indonesia kepada Presiden Prabowo sebagai bagian dari dokumentasi perjalanan dan kiprah alumni Gontor bagi bangsa dan negara.
Bagi Gontor, satu abad bukan sekadar penanda usia lembaga pendidikan. Momentum tersebut sekaligus menjadi ruang untuk menegaskan kembali nilai pendidikan, pengabdian, kesederhanaan dan tanggung jawab sosial yang diwariskan para pendiri.
Di hadapan Presiden Prabowo, KH Hasan kemudian menyampaikan pesan yang lebih luas: seorang pemimpin harus siap mendengar suara orang yang dipimpinnya, termasuk ketika suara tersebut hadir dalam bentuk kritik dan protes.
Pesan itu disampaikan dalam suasana penuh humor, tetapi substansinya jelas. Kepemimpinan, dalam pandangan KH Hasan, tidak boleh membuat seseorang kehilangan kesediaan untuk dikoreksi.
- Penulis: (**/ARP)



Saat ini belum ada komentar