Gempa M 7,7 Filipina Picu Tsunami Minor di Sejumlah Wilayah Sulut Ini Daftarnya
- account_circle (**/VIC)
- calendar_month Selasa, 13 Okt 2026
- visibility 141
- comment 0 komentar
- print Cetak

BMKG menyampaikan informasi pengakhiran peringatan dini tsunami menyusul gempa M 7,7 di Filipina yang memicu kenaikan muka air laut di sejumlah wilayah pesisir Sulawesi Utara dan Maluku Utara. Foto: Dok. BMKG.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
MANADO, PRONEWS5.COM — Gempa bumi bermagnitudo 7,7 yang mengguncang perairan selatan Mindanao, Filipina, pada 8 Juni 2026 memicu kenaikan muka air laut di sejumlah wilayah pesisir Sulawesi Utara dan Maluku Utara.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat gelombang tertinggi mencapai 75 sentimeter di Talengan, Kabupaten Kepulauan Sangihe, sebelum mengakhiri peringatan dini tsunami pada pukul 10.15.51 WIB.
Peristiwa tersebut menunjukkan bahwa gempa kuat di luar wilayah Indonesia dapat menimbulkan dampak hidrodinamika hingga ke pesisir Tanah Air, terutama kawasan yang berdekatan dengan sumber gempa dan memiliki keterhubungan langsung dengan perairan sekitarnya.
Berdasarkan analisis BMKG, gempa terjadi pada pukul 06.37.42 WIB dengan pusat di laut pada koordinat 5,80 derajat Lintang Utara dan 125,14 derajat Bujur Timur.
Episenter berada sekitar 244 kilometer di barat laut Pulau Karatung, Sulawesi Utara, pada kedalaman 47 kilometer.
Gempa tersebut berkaitan dengan aktivitas tektonik di kawasan pertemuan lempeng di sekitar Filipina.
Energi yang dilepaskan dari pergerakan kerak bumi di dasar laut berpotensi mengganggu kolom air dan menghasilkan gelombang tsunami yang merambat ke wilayah pesisir negara-negara di sekitarnya.
Setelah menerima dan menganalisis informasi gempa, BMKG menerbitkan peringatan dini tsunami untuk sejumlah kawasan pesisir di Sulawesi Utara, Gorontalo, Sulawesi Tengah, Maluku Utara hingga Kalimantan Timur.
Pemetaan awal membagi wilayah ke dalam kategori Siaga dan Waspada berdasarkan perkiraan ketinggian gelombang yang berpotensi terjadi.
Kategori Siaga mencakup wilayah dengan estimasi gelombang 0,5 hingga 3 meter, sedangkan Waspada menunjukkan potensi gelombang di bawah 0,5 meter.
Di Sulawesi Utara, wilayah yang masuk dalam pemantauan meliputi Kepulauan Sangihe, Kepulauan Talaud, Kepulauan Sitaro, Manado, Bitung, Minahasa Utara, Minahasa Selatan, serta sejumlah kawasan pesisir Bolaang Mongondow.
Wilayah lain yang turut diperhitungkan dalam peringatan awal berada di Gorontalo, Sulawesi Tengah, Maluku Utara dan Kalimantan Timur.
Status tersebut merupakan estimasi ancaman pada tahap awal, bukan kepastian bahwa setiap daerah akan mengalami gelombang dengan ketinggian sesuai kategori peringatan.
Data pemantauan muka air laut yang dihimpun BMKG bersama Badan Informasi Geospasial (BIG) memperlihatkan adanya variasi ketinggian gelombang di sejumlah titik pengamatan.
Talengan, Kabupaten Kepulauan Sangihe, mencatat kenaikan muka air laut tertinggi sebesar 0,75 meter pada pukul 08.20 WIB. Di Paleleh, Kabupaten Buol, Sulawesi Tengah, tinggi gelombang tercatat 0,45 meter pada pukul 07.34 WIB.
Sementara itu, pemantauan di Melonguane, Kabupaten Kepulauan Talaud, mencatat 0,32 meter pada pukul 07.27 WIB. Angka serupa terukur di Tanjung Sidupa, Kabupaten Bolaang Mongondow, pada pukul 07.39 WIB.
Di Tahuna, Kepulauan Sangihe, kenaikan muka air laut mencapai 0,30 meter pada pukul 06.58 WIB. Pengamatan lainnya mencatat 0,29 meter di Bitung, 0,18 meter di Ulu Siau, Kabupaten Kepulauan Sitaro, serta 0,14 meter di Ternate dan 0,09 meter di Loloda, Halmahera Barat.
Perbedaan hasil pengukuran tersebut menggambarkan bahwa respons muka air laut tidak seragam di setiap lokasi.
Jarak terhadap sumber gempa, karakteristik dasar laut, bentuk garis pantai dan kondisi perairan setempat dapat memengaruhi karakter gelombang yang teramati.
Dalam perkembangan pascagempa, BMKG melaporkan sedikitnya 20 gempa susulan hingga pukul 10.00 WIB. Gempa susulan tersebut memiliki magnitudo bervariasi, mulai dari 3,9 hingga 6,7.
Guncangan gempa utama juga dilaporkan terasa kuat di kawasan perbatasan Indonesia dengan Filipina.
Wilayah Miangas dan Melonguane tercatat mengalami intensitas hingga VI MMI, yang menunjukkan guncangan kuat dan berpotensi menimbulkan kerusakan pada bangunan tertentu, bergantung pada kondisi konstruksi dan lingkungan setempat.
Setelah melakukan evaluasi terhadap perkembangan muka air laut, BMKG mengakhiri peringatan dini tsunami pada pukul 10.15.51 WIB.
Keputusan tersebut menandai berakhirnya status peringatan berdasarkan hasil pemantauan saat itu, tetapi tidak berarti aktivitas gempa susulan otomatis berhenti.
Masyarakat di kawasan pesisir diimbau mengikuti informasi dari BMKG dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), serta tidak menyebarkan informasi yang belum terverifikasi.
Pengakhiran peringatan dini menjadi dasar untuk memperbarui langkah penanganan sesuai arahan otoritas setempat.
Meski demikian, warga tetap perlu memperhatikan kondisi lingkungan, mengikuti petunjuk petugas dan tidak kembali ke area berisiko apabila masih terdapat instruksi evakuasi.
Peristiwa ini kembali menegaskan pentingnya sistem peringatan dini yang terintegrasi, pemantauan muka air laut secara berkelanjutan dan kesiapsiagaan masyarakat pesisir.
Kecepatan penyampaian informasi yang akurat menjadi faktor penting untuk mengurangi risiko ketika gempa bawah laut berpotensi memicu tsunami lintas wilayah.
- Penulis: (**/VIC)



Saat ini belum ada komentar