Asap Karhutla Gunung Klabat Mengancam Manado
- account_circle (**/VIC)
- calendar_month Minggu, 11 Okt 2026
- visibility 118
- comment 0 komentar
- print Cetak

Tangkapan layar video memperlihatkan kobaran api yang membakar kawasan kaki Gunung Klabat, Kabupaten Minahasa Utara, hingga Minggu (11/10/2026) malam. (Video: Dok. Maryo Sengkeh)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
MINAHASA UTARA, PRONEWS5.COM — Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kaki Gunung Klabat, Kabupaten Minahasa Utara, Sulawesi Utara, dilaporkan telah melahap sekitar 651 hektare lahan hingga 11 Oktober 2026. Kebakaran yang berlangsung sejak 19 September itu belum sepenuhnya terkendali setelah berjalan selama 23 hari, sementara sebaran asap mulai mengkhawatirkan karena berpotensi memengaruhi kualitas udara hingga wilayah Kota Manado.
Perluasan area terdampak dan masuknya api ke kawasan hutan lindung memperlihatkan besarnya tantangan penanganan kebakaran di wilayah tersebut.
Pemerintah Kabupaten Minahasa Utara memperpanjang masa tanggap darurat pada 8–21 Oktober 2026, seiring upaya tim gabungan mengendalikan api di medan perbukitan yang sulit dijangkau.
Bupati Minahasa Utara Joune Ganda sebelumnya menjelaskan bahwa pemadaman menghadapi sejumlah kendala di lapangan.
Kondisi geografis yang terjal, perubahan arah angin, serta keterbatasan akses menuju titik api membuat proses pengendalian kebakaran tidak dapat dilakukan secara optimal dalam waktu singkat.
Tim gabungan yang melibatjskan BPBD, Basarnas, pemadam kebakaran, Manggala Agni, TNI, Polri, dan relawan setempat terus melakukan upaya pemadaman.
Salah satu strategi yang diterapkan ialah menempatkan personel di dalam kawasan hutan melalui pola flying camp.
Skema ini memungkinkan petugas bertahan lebih dekat dengan lokasi kebakaran sehingga penanganan dapat dilakukan tanpa harus berulang kali menempuh perjalanan jauh dari posko utama.
Namun, pengerahan personel di lapangan tetap menghadapi risiko. Angin kencang dapat mengubah arah rambatan api, sedangkan kontur perbukitan menyulitkan mobilisasi peralatan dan distribusi logistik. Pengiriman kebutuhan operasional kepada petugas yang berada di dalam hutan pun harus dilakukan secara berkala.
Dari sisi pemantauan, penghitungan luas lahan yang terbakar juga dilaporkan menghadapi hambatan akibat tutupan awan di kawasan pegunungan.
Kondisi tersebut dapat mengurangi kejelasan citra satelit sehingga pemetaan area terdampak membutuhkan dukungan verifikasi lapangan dan pembaruan data secara berkala.
Dampak karhutla tidak hanya berkaitan dengan kerusakan vegetasi dan ekosistem hutan.
Asap hasil pembakaran berpotensi menurunkan kualitas udara dan meningkatkan paparan partikel halus bagi masyarakat di sekitar lokasi kejadian.
Sebaran asap yang dilaporkan mencapai kawasan permukiman Minahasa Utara hingga berpotensi memengaruhi Manado perlu ditangani melalui pemantauan kualitas udara yang terukur.
Selain kebakaran di Gunung Klabat, pembakaran terbuka di lokasi lain, termasuk area pembuangan akhir sampah, disebut dapat turut memperburuk kondisi udara apabila berlangsung bersamaan.
Paparan asap karhutla dapat memicu iritasi mata, batuk, sesak napas, dan memperburuk kondisi penderita penyakit pernapasan.
Anak-anak, lanjut usia, serta orang dengan gangguan pernapasan termasuk kelompok yang perlu mendapat perlindungan lebih besar selama kualitas udara memburuk.
Masyarakat diimbau mengurangi aktivitas di luar ruangan ketika asap pekat, menggunakan masker yang sesuai untuk mengurangi paparan partikel, serta menutup pintu dan jendela apabila kondisi udara di luar tidak sehat.
Warga yang mengalami sesak napas atau keluhan berat perlu segera mencari pertolongan medis.
Luas kebakaran yang mencapai ratusan hektare menuntut penanganan terpadu, mulai dari pemadaman, perlindungan kawasan hutan lindung, pemantauan kualitas udara, hingga penyelidikan penyebab kebakaran.
Penyebab awal karhutla perlu ditetapkan berdasarkan hasil pemeriksaan petugas dan bukti di lapangan.
Cuaca kering, angin, serta kondisi vegetasi dapat mempercepat penyebaran api, tetapi faktor tersebut tidak dengan sendirinya membuktikan sumber atau penyebab munculnya kebakaran.
Evaluasi juga diperlukan untuk mengetahui titik awal api, pola penyebaran, area yang paling terdampak, serta kemungkinan adanya unsur kelalaian atau kesengajaan. Apabila ditemukan indikasi pelanggaran hukum, penanganannya perlu dilakukan sesuai ketentuan yang berlaku.
Pemerintah daerah bersama instansi teknis diharapkan menyampaikan perkembangan pemadaman secara berkala, termasuk luas kebakaran terbaru, jumlah titik api yang masih aktif, kondisi personel, serta hasil pemantauan kualitas udara. Informasi tersebut penting agar masyarakat memperoleh gambaran situasi yang akurat dan dapat mengambil langkah perlindungan secara tepat.
Hingga data terbaru tersedia, luas terdampak sekitar 651 hektare merupakan angka yang dilaporkan per 11 Oktober 2026, bukan kepastian bahwa api masih membakar seluruh area tersebut. Perkembangan kondisi kebakaran tetap perlu dikonfirmasi melalui laporan resmi tim penanganan di lapangan.
Penanganan karhutla Gunung Klabat kini membutuhkan dua prioritas yang berjalan beriringan: menghentikan penyebaran api dan melindungi masyarakat dari dampak asap. Keberhasilan penanganan tidak hanya diukur dari berkurangnya titik api, tetapi juga dari pemulihan kawasan terdampak dan terjaminnya keselamatan warga.
- Penulis: (**/VIC)



Saat ini belum ada komentar