Asap Karhutla Gunung Klabat Kepung Desa Laikit Bikin Warga Sesak dan Pengap
- account_circle (**/ARP)
- calendar_month Senin, 12 Okt 2026
- visibility 127
- comment 0 komentar
- print Cetak

Situasi kabut asap akibat karhutla di kawasan Desa Laikit, Kabupaten Minahasa Utara, pada malam hari, Minggu (11/10/2026). Asap pekat menyelimuti wilayah sekitar permukiman warga. (Foto: Istimewa/PRONews5.com)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
MINAHASA UTARA, PRONEWS5.COM — Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan kaki Gunung Klabat, Kabupaten Minahasa Utara, Sulawesi Utara, dilaporkan menghanguskan sekitar 651 hektare lahan. Dampak kebakaran tersebut meluas hingga ke permukiman warga Desa Laikit, dengan kabut asap pekat yang membuat udara terasa pengap dan mengurangi jarak pandang.
Asap kebakaran juga dilaporkan menyelimuti Desa Matungkas dan kawasan kompleks perkantoran Pemerintah Kabupaten Minahasa Utara.
Kondisi ini menjadi perhatian karena asap cenderung bertahan lebih lama pada malam hari ketika pergerakan angin melemah.
Warga di sekitar wilayah terdampak menghadapi kondisi udara yang mengganggu kenyamanan beraktivitas.
Asap yang menyebar hingga permukiman menimbulkan kekhawatiran, terutama terhadap dampaknya bagi anak-anak, lanjut usia, dan masyarakat yang rentan mengalami gangguan pernapasan.
Selain membuat udara terasa pengap, asap tebal juga berpotensi membatasi jarak pandang pengguna jalan.
Masyarakat yang berkendara di sekitar kawasan terdampak perlu meningkatkan kewaspadaan, terutama ketika kondisi asap semakin pekat.
Pemerintah Kabupaten Minahasa Utara memperpanjang status tanggap darurat bencana kekeringan, karhutla, dan angin kencang hingga 21 Oktober 2026.
Langkah tersebut dilakukan di tengah upaya penanganan kebakaran yang belum sepenuhnya tuntas.
Personel gabungan dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), pemadam kebakaran, TNI, Polri, dan relawan terus berupaya menjangkau titik-titik api di kawasan kaki Gunung Klabat.
Namun, proses pemadaman menghadapi kendala berupa medan yang terjal, akses menuju lokasi yang terbatas, serta tiupan angin yang berpotensi memicu penyebaran api.
Kondisi tersebut membuat upaya pemadaman membutuhkan penanganan berkelanjutan.
Titik panas dan bara yang masih tersisa perlu dipantau untuk mengurangi risiko munculnya kembali api, terutama pada kawasan dengan vegetasi kering.
Di tengah situasi tersebut, warga diimbau mengurangi aktivitas di luar ruangan saat asap menebal.
Apabila harus keluar rumah, penggunaan respirator seperti N95 dapat membantu mengurangi paparan partikel asap.
Masyarakat juga perlu segera mencari pertolongan medis apabila mengalami sesak napas atau gangguan pernapasan berat.
Besarnya luas lahan yang terbakar dan penyebaran asap hingga ke kawasan permukiman menunjukkan bahwa dampak karhutla tidak hanya berkaitan dengan kerusakan lingkungan, tetapi juga menyangkut keselamatan dan kesehatan masyarakat.
Pemantauan kondisi udara, penyampaian informasi yang cepat, serta koordinasi antarlembaga menjadi bagian penting dalam penanganan bencana ini.
Masyarakat membutuhkan kepastian mengenai perkembangan pemadaman dan langkah perlindungan yang dapat dilakukan selama asap masih menyelimuti wilayah mereka.
- Penulis: (**/ARP)



Saat ini belum ada komentar