Prajurit TNI Gugur di Lebanon, Pemerintah Desak Investigasi dan Evaluasi Misi Perdamaian
- account_circle DIO
- calendar_month Selasa, 31 Mar 2026
- visibility 280
- comment 0 komentar
- print Cetak

Ilustrasi pasukan United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL) saat melakukan patroli di wilayah Lebanon Selatan dalam rangka menjaga stabilitas dan memantau garis demarkasi (Blue Line).
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
JAKARTA — Seorang prajurit TNI, Praka Farizal Rhomadhon, gugur saat menjalankan misi perdamaian dunia di Lebanon Selatan setelah posisi kontingen Indonesia dihantam serangan artileri, Minggu (29/3/2026). Tiga prajurit lainnya mengalami luka-luka, satu di antaranya dalam kondisi berat.
Peristiwa tersebut terjadi di Kota Adshit al-Qusyar saat korban bertugas sebagai bagian dari pasukan United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL), tepatnya dalam Kompi C UNP 7-1 Satgas Yonmek XXIII-S/UNIFIL.
Kepala Pusat Penerangan (Kapuspen) TNI, Aulia Dwi Nasrullah, mengatakan serangan artileri menghantam langsung posisi pasukan Indonesia di tengah meningkatnya eskalasi konflik bersenjata di wilayah tersebut.
“Serangan terjadi di area penugasan pasukan Garuda di tengah intensitas konflik yang meningkat,” ujarnya, dikutip dari Antara, Senin (30/3/2026).
Namun demikian, hingga saat ini pihak UNIFIL belum dapat memastikan sumber atau pihak yang bertanggung jawab atas serangan tersebut. Dalam pernyataan resminya, UNIFIL menyebutkan bahwa investigasi sedang dilakukan untuk mengetahui asal proyektil dan seluruh kejadian.
Insiden ini terjadi di tengah memanasnya situasi keamanan di Lebanon Selatan yang melibatkan militer Israel dan kelompok bersenjata Hizbullah.
Meski demikian, belum ada konfirmasi resmi yang menyatakan keterlibatan langsung salah satu pihak dalam serangan yang menewaskan prajurit Indonesia tersebut.
Tiga prajurit yang terluka masing-masing adalah Praka Rico Pramudia (luka berat), serta Praka Bayu Prakoso dan Praka Arif Kurniawan (luka ringan). Dua korban luka ringan telah mendapat perawatan di rumah sakit UNIFIL, sementara Praka Rico dievakuasi menggunakan helikopter ke Rumah Sakit St. George di Beirut untuk penanganan intensif.
Jenazah Praka Farizal saat ini disemayamkan di markas East Sector Headquarters UNIFIL sambil menunggu proses pemulangan ke Indonesia dengan bantuan Kedutaan Besar RI di Beirut.
Di tengah duka tersebut, pemerintah Indonesia langsung mengambil langkah diplomatik. Menteri Luar Negeri, Sugiono, mendesak dilakukan investigasi menyeluruh atas insiden ini.
“Indonesia meminta investigasi penuh dari UNIFIL untuk menemukan sumber serangan serta mendorong semua pihak menahan diri,” ujar Sugiono di sela kunjungan kerja Presiden Prabowo Subianto di Tokyo, Jepang.
Sikap serupa disampaikan Sekretaris Jenderal PBB, António Guterres, yang mengecam keras insiden tersebut serta menyampaikan belasungkawa kepada Indonesia. Ia juga menegaskan pentingnya perlindungan terhadap pasukan penjaga perdamaian sesuai hukum internasional.
Di dalam negeri, peristiwa ini memicu reaksi politik. Anggota DPR RI dari Partai Golkar, Dave Laksono, meminta pemerintah melakukan evaluasi menyeluruh terhadap keterlibatan pasukan TNI dalam misi di Lebanon.
“Ada baiknya dilakukan evaluasi, bahkan opsi penghentian penugasan jika situasi tidak lagi aman,” ujarnya di Jakarta.
Kementerian Luar Negeri RI menegaskan bahwa keselamatan pasukan penjaga perdamaian harus menjadi prioritas utama.
Pemerintah juga mengecam segala bentuk kekerasan serta mendesak semua pihak yang bertikai untuk menghormati hukum humaniter internasional.
- Penulis: DIO



Saat ini belum ada komentar