Sapu-Sapu Mengganas di Danau Tondano, Nelayan Desak Copot Kadis Perikanan, Aruperes Pasrah
- account_circle (**/ARP)
- calendar_month Kamis, 30 Apr 2026
- visibility 466
- comment 0 komentar
- print Cetak

Sejumlah nelayan di Danau Tondano terlihat memburu ikan sapu-sapu secara mandiri sebagai bentuk inisiatif lapangan, tanpa perintah, bantuan, maupun fasilitasi dari pemerintah daerah. (Gambar: Dok)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
MINAHASA|Pronews5.com — Ledakan populasi ikan sapu-sapu di Danau Tondano, Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara, memicu kemarahan nelayan. Mereka mendesak Bupati Minahasa Robby Dondokambey dan Wakil Bupati Vanda Sarundajang segera mencopot Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan, Lendy Aruperes, yang dinilai lamban menangani invasi spesies perusak tersebut.
Fenomena ini terjadi dalam beberapa bulan terakhir dan semakin terasa dampaknya pada April 2026.
Nelayan di pesisir Danau Tondano mengeluhkan hasil tangkapan mereka yang merosot drastis.
Hampir setiap jaring yang ditebar justru dipenuhi ikan sapu-sapu, bukan ikan konsumsi bernilai ekonomi.
“Ikan ini sudah sangat banyak. Setiap kali jaring ditarik, isinya sapu-sapu.
Kami terpaksa buang ke darat supaya tidak berkembang lagi,” ujar salah satu nelayan.

Sejumlah nelayan di Danau Tondano mengumpulkan ikan sapu-sapu hasil tangkapan dalam aksi mandiri di bantaran perairan, sebagai upaya menekan populasi spesies invasif yang kian mengancam ekosistem dan mata pencaharian mereka.
Tak hanya di danau, penyebaran ikan invasif ini juga telah menjangkau daerah aliran sungai (DAS), memperluas ancaman terhadap ekosistem perairan di Minahasa.
Secara investigatif, kondisi ini menunjukkan lemahnya respons cepat pemerintah daerah dalam menghadapi ancaman ekologis.
Nelayan bahkan menyindir, mereka lebih dulu bergerak melakukan penangkapan dan pemusnahan secara mandiri, sementara dinas terkait masih menunggu instruksi.
“Nelayan sudah bergerak, pemerintah masih tunggu perintah. Kalau dibiarkan, nanti terlambat,” keluh warga.
Kritik juga mengarah pada minimnya langkah preventif. Padahal, kasus serupa pernah terjadi di Sungai Ciliwung dan sejumlah perairan di DKI Jakarta, di mana ledakan ikan sapu-sapu menyebabkan kerusakan ekosistem, air menghitam, dan hilangnya ikan lokal.
Belajar dari pengalaman tersebut, pemerintah daerah dinilai seharusnya bergerak cepat sebelum dampak semakin luas.
Dari sisi biologis, ikan sapu-sapu dikenal sebagai spesies invasif dengan kemampuan reproduksi tinggi.
Dalam sekali bertelur, satu induk betina mampu menghasilkan 400 hingga lebih dari 1.000 telur.
Variasi ukuran tangkapan nelayan mulai dari 5 cm hingga 50 cm menunjukkan bahwa siklus reproduksi berlangsung masif dan berkelanjutan.
Jika tidak dikendalikan, spesies ini berpotensi menggeser populasi ikan lokal, merusak rantai makanan, serta mengganggu keseimbangan ekosistem danau.
Menanggapi desakan pencopotan, Kadis Kelautan dan Perikanan Minahasa, Lendy Aruperes, menyatakan menerima semua masukan.
“Kalau ada usulan seperti itu, kami tidak masalah. Jabatan adalah amanah dengan segala risiko yang harus disyukuri,” ujarnya kepada wartawan, Kamis (30/4/2026).
Ia juga mengklaim laporan terkait ledakan populasi ikan sapu-sapu telah disampaikan kepada pimpinan daerah dan penanganan akan segera dilakukan secara masif bersama masyarakat.
Namun, di lapangan, nelayan menilai pernyataan tersebut belum sejalan dengan tindakan nyata.
Mereka berharap pemerintah tidak sekadar merespons di atas kertas, tetapi segera melakukan langkah konkret, mulai dari program penangkapan massal, pengendalian, populasi, hingga edukasi ekosistem.
Jika tidak, Danau Tondano berisiko mengikuti jejak perairan lain yang telah lebih dulu rusak dan pada akhirnya, masyarakat kecil yang akan menanggung dampak terbesarnya.
- Penulis: (**/ARP)
- Editor: Donald Taliwongso



Saat ini belum ada komentar