Populasi Ikan Sapu-Sapu Kian Tak Terkendali di Danau Tondano, Nelayan Desak Aksi Cepat Pemkab Minahasa
- account_circle (**/ARP)
- calendar_month Sabtu, 25 Apr 2026
- visibility 568
- comment 0 komentar
- print Cetak

Tangkapan ikan sapu-sapu yang terjaring oleh nelayan di Danau Tondano, Kabupaten Minahasa, Sabtu (25/4/2026). (Foto: Dok)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
MINAHASA, PRONEWS5.COM — Populasi ikan sapu-sapu dilaporkan meledak di Danau Tondano, Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara, dan kini menjadi ancaman serius bagi ekosistem perairan serta mata pencaharian nelayan. Fenomena ini terungkap dari hasil tangkapan nelayan yang hampir setiap hari mendapati ikan invasif tersebut tersangkut di jaring.
Sejumlah nelayan mengungkapkan, keberadaan ikan sapu-sapu kini semakin tidak terkendali. Hampir di setiap aktivitas penangkapan ikan, spesies tersebut selalu ikut tertangkap. Mereka pun terpaksa membuang ikan itu ke daratan agar tidak kembali berkembang biak di danau.
“Ikan ini sudah sangat banyak di danau. Kalau tertangkap, tidak kami lepas lagi, langsung kami buang ke darat supaya tidak berkembang biak,” ujar salah satu nelayan.
Nelayan juga membeberkan bahwa ukuran ikan sapu-sapu yang tertangkap sangat bervariasi, mulai dari ukuran kecil sekitar 5–10 sentimeter (anakan), ukuran sedang berkisar 15–30 sentimeter, hingga yang terbesar mencapai panjang 40–50 sentimeter dengan bobot yang cukup berat.
Variasi ukuran ini menunjukkan bahwa ikan tersebut berkembang biak secara masif dan berkelanjutan di Danau Tondano.
Kekhawatiran nelayan semakin meningkat karena kemampuan reproduksi ikan ini tergolong tinggi.
Dalam satu kali bertelur, seekor ikan sapu-sapu betina mampu menghasilkan sekitar 400 hingga lebih dari 1.000 butir telur, mempercepat ledakan populasi jika tidak segera dikendalikan.
Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Minahasa, Ir. Lendy Aruperes, saat dikonfirmasi membenarkan kondisi tersebut. Ia menyebut laporan mengenai lonjakan populasi ikan sapu-sapu telah diteruskan ke pimpinan daerah.
“Sudah dilaporkan kepada pimpinan, dan dalam waktu dekat akan dilakukan penanganan secara masif bersama masyarakat pesisir Danau Tondano,” ujar Aruperes saat dihubungi, Sabtu (25/4/2026).
Fenomena ini bukan hanya terjadi di Minahasa.
Di Jakarta, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta bahkan telah lebih dulu mengambil langkah tegas dengan mendeklarasikan “perang” terhadap ikan sapu-sapu sejak April 2026.
Kebijakan itu diambil setelah spesies invasif tersebut mendominasi lebih dari 60 persen perairan ibu kota.
Gubernur Pramono Anung menginstruksikan pembersihan besar-besaran di sungai dan waduk.
Dalam operasi serentak, pemerintah berhasil mengamankan hampir 7 ton ikan sapu-sapu, terutama dari wilayah Jakarta Timur.
Secara ilmiah, ikan sapu-sapu merupakan spesies invasif asal Amerika Selatan yang tidak memiliki predator alami di Indonesia.
Keberadaannya berdampak serius karena memakan telur ikan lokal dan bersaing dalam rantai makanan, sehingga mengancam populasi ikan asli seperti wader.
Selain itu, kebiasaan ikan ini membuat lubang di tepian perairan dapat memicu erosi dan mempercepat pendangkalan danau atau sungai.
Bahkan di Jakarta, pemerintah melarang konsumsi ikan ini karena berpotensi mengandung logam berat berbahaya seperti merkuri, timbal, dan kadmium.
Sebagai langkah jangka panjang, pemerintah pusat dan daerah kini mulai mengkaji pemanfaatan ikan sapu-sapu sebagai bahan pakan ternak atau pupuk agar pengendaliannya tidak hanya berfokus pada pemusnahan, tetapi juga memiliki nilai ekonomi.
Di Minahasa, para nelayan berharap pemerintah daerah tidak menunggu hingga kondisi semakin parah seperti di Jakarta.
Langkah cepat, terukur, dan berbasis kolaborasi dinilai mendesak dilakukan agar Danau Tondano tidak mengalami kerusakan ekosistem yang lebih luas akibat ledakan populasi ikan sapu-sapu.
- Penulis: (**/ARP)
- Editor: Christo Senduk



Saat ini belum ada komentar