Amankan Tarkam di Kotamobagu, Anggota Brimob Polda Sulut Tertembak Senapan Angin di Perut
- account_circle (**/NOX)
- calendar_month Senin, 28 Sep 2026
- visibility 122
- comment 0 komentar
- print Cetak

Kondisi anggota Brimob Polda Sulut Bripka Muhamad Ali saat menjalani perawatan medis di RS Bhayangkara Manado setelah terkena tembakan senapan angin ketika mengamankan bentrokan warga di wilayah Upai–Poopo.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
KOTAMOBAGU, PRONEWS5.COM — Upaya aparat mengendalikan bentrokan warga di kawasan perbatasan Upai–Poopo kembali diwarnai insiden serius. Seorang personel Brimob Polda Sulut, Bripka Muhamad Ali, dilaporkan terkena tembakan senapan angin ketika menjalankan tugas pengamanan di tengah konflik antarkelompok warga.
Peristiwa tersebut terjadi saat aparat gabungan berusaha memisahkan massa yang terlibat bentrokan di kawasan perbatasan Upai–Sia, Kota Kotamobagu, Minggu (27/9/2026) malam hingga dini hari. Dalam situasi yang masih tegang, personel keamanan menghadapi serangan menggunakan berbagai benda, termasuk batu dan senapan angin.
Bripka Muhamad Ali kemudian menjadi salah satu korban dalam rangkaian kericuhan tersebut. Informasi yang dihimpun menyebut proyektil senapan angin mengenai bagian perutnya sehingga korban harus mendapatkan penanganan medis.
Setelah kejadian, korban dievakuasi dari lokasi pengamanan dan kemudian mendapat perawatan lebih lanjut di RS Bhayangkara Manado. Kondisi korban masih menjadi perhatian jajaran Brimob Polda Sulut.
Insiden ini terjadi di tengah eskalasi bentrokan antara warga Kelurahan Upai, Kecamatan Kotamobagu Utara, dan warga Desa Poopo, Kecamatan Passi Timur, Kabupaten Bolaang Mongondow. Sebelumnya, bentrokan juga dilaporkan menyebabkan sejumlah warga dan personel aparat mengalami luka serta beberapa kendaraan mengalami kerusakan.
Di sisi lain, Polres Kotamobagu telah mengambil langkah hukum dengan mengamankan dua warga Upai berinisial MR dan AH. Keduanya diamankan untuk menjalani pemeriksaan terkait laporan dugaan kekerasan secara bersama-sama di muka umum dan penganiayaan.
Penyidik masih mendalami peran masing-masing serta mengumpulkan keterangan saksi dan barang bukti. Karena itu, keterlibatan MR dan AH dalam penembakan terhadap Bripka Muhamad Ali belum dapat disimpulkan dan masih menjadi bagian dari proses penyelidikan.
Polres Kotamobagu sebelumnya juga meningkatkan pengamanan dengan menempatkan personel bersama Brimob di wilayah yang dinilai rawan untuk mencegah bentrokan kembali pecah.
Kapolres Kotamobagu AKBP Abdul Kholik bersama Dandim 1303/Bolaang Mongondow Letkol Inf. Manashe Lomo turun langsung memantau pengamanan di wilayah perbatasan Upai–Sia ketika situasi kembali memanas.
Kehadiran pimpinan TNI-Polri di lokasi dilakukan untuk memastikan massa dapat dikendalikan sekaligus mencegah konflik meluas ke wilayah lain. Aparat juga melakukan penyekatan dan meningkatkan kesiapsiagaan di kawasan yang menjadi titik rawan.
Rangkaian bentrokan tersebut diketahui bukan kejadian pertama. Ketegangan antara kelompok warga Upai dan Poopo sebelumnya telah terjadi dan kemudian kembali meningkat setelah muncul gesekan antarpemuda.
Situasi yang awalnya bersumber dari perselisihan antarkelompok kemudian berkembang menjadi bentrokan terbuka. Dalam perkembangannya, penggunaan batu, senjata tajam, panah wayer hingga senapan angin membuat situasi semakin berbahaya bagi warga maupun aparat yang berupaya menghentikan pertikaian.
Penembakan terhadap personel Brimob kini menjadi bagian penting yang perlu diungkap secara hukum. Aparat perlu memastikan dari mana tembakan berasal, siapa yang menggunakan senapan angin, serta apakah tindakan tersebut dilakukan secara sengaja terhadap personel yang sedang menjalankan tugas.
Sementara itu, dua warga yang telah diamankan masih berstatus terduga pelaku. Polisi masih melakukan pemeriksaan dan pendalaman sehingga belum dapat menyimpulkan peran keduanya dalam seluruh rangkaian kejadian.
Hingga Senin (28/9/2026), pengamanan di kawasan Upai–Poopo terus diperkuat untuk mencegah bentrokan susulan.
Masyarakat juga diimbau tidak mengambil tindakan sendiri dan menyerahkan proses hukum kepada aparat berwenang.
Penanganan perkara tersebut kini tidak hanya menyangkut konflik antarwarga, tetapi juga dugaan penyerangan terhadap personel negara yang sedang menjalankan tugas pengamanan.
Polisi masih bekerja mengurai rangkaian peristiwa untuk memastikan setiap pihak yang terbukti terlibat mempertanggungjawabkan perbuatannya sesuai hukum yang berlaku.
- Penulis: (**/NOX)



Saat ini belum ada komentar