Erupsi Anak Krakatau Berakhir Setelah 25 Jam Status Siaga Tetap Berlaku
- account_circle (**/VAN)
- calendar_month Minggu, 6 Sep 2026
- visibility 156
- comment 0 komentar
- print Cetak

Aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda. PVMBG memastikan status gunung api tersebut tetap Level III atau Siaga setelah episode erupsi menerus berlangsung sekitar 25 jam. (Foto: kementrian ESDM)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
LAMPUNG, PRONEWS5.COM — Aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda masih menjadi perhatian setelah gunung api tersebut mengalami erupsi menerus selama sekitar 25 jam. Meski episode erupsi telah berakhir, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) memastikan status Gunung Anak Krakatau tetap Level III atau Siaga.
Episode erupsi menerus tercatat mulai Jumat (4/9/2026) pukul 23.07 WIB dan berakhir pada Minggu (6/9/2026) pukul 00.04 WIB. Informasi tersebut disampaikan Kepala PVMBG Siti Sumilah Rita Susilawati dalam konferensi pers, Minggu (6/9/2026).
Menurut PVMBG, berhentinya erupsi menerus belum berarti aktivitas Gunung Anak Krakatau sepenuhnya mereda. Beberapa indikator pemantauan masih menunjukkan adanya dinamika vulkanik di kawasan gunung api tersebut.
Bahkan, setelah episode erupsi menerus berakhir, masih terjadi satu erupsi susulan bertipe Strombolian pada pukul 03.53 WIB. Erupsi tersebut berlangsung sekitar 30 detik dan untuk sementara ditafsirkan sebagai bagian dari rangkaian akhir episode erupsi sebelumnya.
Pemantauan visual pada 5 hingga 6 September menunjukkan aktivitas erupsi masih terlihat. Pada malam hari, kamera pengawas atau CCTV merekam kolom erupsi berwarna merah, sedangkan pada siang hari tampak kepulan berwarna kehitaman membumbung dari kawasan kawah.
Dari pemantauan kegempaan, energi aktivitas vulkanik yang diukur menggunakan RSAM (Real-time Seismic Amplitude Measurement) sempat meningkat pada 5 September. Namun, pada 6 September indikator tersebut mulai menunjukkan kecenderungan menurun.
Sementara itu, data tiltmeter di Stasiun Tanjung masih memperlihatkan kecenderungan inflasi sejak awal Agustus 2026. Berbeda dengan itu, Stasiun Lava93 menunjukkan pola yang relatif datar atau konstan.
Kondisi tersebut menjadi salah satu alasan PVMBG belum menurunkan status aktivitas Gunung Anak Krakatau. Potensi terjadinya erupsi susulan dalam waktu mendatang masih dinilai tinggi.
Bahaya yang perlu diwaspadai antara lain lontaran batu pijar, hujan abu dengan intensitas lebat, serta aliran lava apabila kembali terjadi erupsi menerus.
Karena itu, PVMBG meminta masyarakat, wisatawan, dan pendaki untuk tidak melakukan aktivitas dalam radius 3 kilometer dari pusat aktivitas Gunung Anak Krakatau.
PVMBG juga meminta masyarakat di wilayah pesisir Banten dan Lampung tetap tenang serta tidak mudah mempercayai informasi yang tidak berasal dari sumber resmi, termasuk kabar hoaks mengenai ancaman tsunami akibat aktivitas Gunung Anak Krakatau.
Masyarakat tetap dapat menjalankan aktivitas seperti biasa dengan mengikuti arahan BPBD setempat dan perkembangan informasi resmi terkait aktivitas gunung api.
Siti Sumilah menegaskan, evaluasi terhadap aktivitas Gunung Anak Krakatau akan terus dilakukan. Selama belum ada laporan evaluasi terbaru yang diterbitkan, status Level III (Siaga) beserta seluruh rekomendasinya tetap berlaku.
- Penulis: (**/VAN)



Saat ini belum ada komentar