TIFF 2026 Bidik 400 Ribu Pengunjung, Seberapa Besar Dampaknya bagi Tomohon?
- account_circle (**/ARP)
- calendar_month Sabtu, 8 Agt 2026
- visibility 533
- comment 0 komentar
- print Cetak

Ribuan masyarakat dan wisatawan memadati jalur Tournament of Flowers (ToF) TIFF 2026 di pusat Kota Tomohon, Sabtu (8/8/2026), menyaksikan parade kendaraan hias dengan dekorasi bunga segar.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
TOMOHON, PRONEWS5.COM – Tomohon International Flower Festival (TIFF) 2026 memasuki puncak penyelenggaraan dengan ambisi yang jauh lebih besar. Setelah dalam beberapa tahun terakhir mampu menarik ratusan ribu kunjungan, Pemerintah Kota Tomohon kini membidik hingga 400.000 kunjungan wisatawan selama rangkaian festival yang berlangsung 7 hingga 12 Agustus 2026.
Puncaknya berlangsung melalui Tournament of Flowers (ToF) di pusat Kota Tomohon, Sabtu (8/8/2026).
Ruas jalan utama berubah menjadi panggung terbuka. Kendaraan-kendaraan hias dengan dekorasi bunga segar bergerak perlahan melewati koridor parade, sementara masyarakat dan wisatawan memadati sisi jalan untuk menyaksikan langsung kemeriahan festival.
Target 400.000 kunjungan tersebut bukan angka yang muncul tanpa latar belakang. TIFF telah mengalami perjalanan panjang dalam membangun daya tariknya sebagai salah satu agenda pariwisata unggulan Tomohon dan Sulawesi Utara.
Data historis yang dikutip dalam sejumlah kajian menunjukkan bahwa pada 2016 jumlah kunjungan TIFF berada di kisaran 135.000.
Angka itu kemudian terus meningkat hingga mencapai sekitar 258.575 kunjungan pada 2019.
Capaian tersebut menjadi salah satu penanda bahwa festival bunga Tomohon telah berkembang menjadi event yang mampu menarik massa dalam skala nasional.
Pandemi kemudian mengubah hampir seluruh aktivitas pariwisata.
Mobilitas masyarakat dibatasi dan berbagai agenda besar tidak dapat berlangsung seperti sebelumnya. Ketika sektor pariwisata mulai pulih, TIFF kembali mendapatkan momentum.
Pada penyelenggaraan 2024, Menteri Pariwisata menyebut analisis dampak Kharisma Event Nusantara mencatat lebih dari 300.000 pengunjung TIFF.
Pada tahun yang sama, dampak ekonomi yang dikaitkan dengan penyelenggaraan festival disebut mencapai lebih dari Rp92 miliar.
Angka tersebut menjadi penting karena menunjukkan bahwa TIFF bukan hanya menghasilkan keramaian, tetapi juga mempunyai potensi ekonomi yang besar.
Namun, angka kunjungan harus dibaca secara hati-hati.
Istilah kunjungan tidak selalu berarti jumlah individu yang berbeda. Dalam sebuah festival yang berlangsung beberapa hari, seorang wisatawan dapat melakukan lebih dari satu kunjungan.
Karena itu, ketika membicarakan target 400.000 pada 2026, data akhir nantinya perlu menjelaskan secara transparan metode penghitungan yang digunakan.
Pada 2025, Pemerintah Kota Tomohon menargetkan 310.000 wisatawan selama rangkaian TIFF.
Sementara pada 2026, target kembali dinaikkan menjadi 400.000 kunjungan.
Jika dibandingkan dengan target 2025, angka 400.000 berarti terdapat ambisi peningkatan yang cukup besar.
Tetapi angka tersebut untuk saat ini masih merupakan target dan belum dapat disebut sebagai realisasi, mengingat seluruh rangkaian TIFF 2026 baru akan berakhir pada 12 Agustus.
Di sinilah menariknya membaca TIFF 2026. Festival ini tidak hanya berusaha mendatangkan lebih banyak wisatawan, tetapi juga memperbesar skala penyelenggaraannya.
Persiapan bunga menjadi salah satu indikatornya.
Sekitar 354.000 tangkai bunga disiapkan untuk mendukung pelaksanaan TIFF 2026.
Bunga-bunga tersebut berasal dari produksi petani lokal dan kemudian menjadi bahan utama dekorasi kendaraan hias.
Proses tersebut memperlihatkan bahwa TIFF sebenarnya memiliki rantai ekonomi yang panjang.
Festival tidak dimulai ketika kendaraan hias memasuki jalan.
Aktivitas ekonominya sudah berlangsung jauh sebelumnya ketika petani menanam dan merawat bunga, kemudian hasil panen diserap untuk kebutuhan festival.
Setelah itu, bunga berpindah ke tangan florist dan dekorator.
Mereka mengolahnya menjadi ornamen kendaraan hias. Dari sana, hasil kreativitas tersebut menjadi tontonan yang kemudian menarik wisatawan.
Rantai tersebut memperlihatkan posisi penting TIFF dalam menghubungkan pertanian dengan pariwisata dan ekonomi kreatif.
Semakin besar skala festival, semakin besar pula kebutuhan terhadap bunga, jasa dekorasi, transportasi, akomodasi, konsumsi, dokumentasi dan berbagai kebutuhan pendukung lainnya.
Dengan kata lain, 400.000 kunjungan bukan hanya berbicara mengenai jumlah orang yang datang ke Tomohon.
Angka tersebut berpotensi menciptakan efek berantai terhadap berbagai sektor ekonomi.
Persoalannya kemudian adalah bagaimana memastikan efek tersebut benar-benar dirasakan masyarakat.
Keramaian yang terlihat di sepanjang jalur Tournament of Flowers memang menjadi indikator paling mudah.
Jalanan penuh, hotel meningkat tingkat huniannya, restoran dan pedagang ramai, sementara kendaraan wisatawan memenuhi berbagai kawasan.
Tetapi ukuran keberhasilan pariwisata modern tidak berhenti pada kepadatan.
Yang jauh lebih penting adalah berapa lama wisatawan tinggal dan berapa banyak uang yang mereka belanjakan di daerah tujuan wisata.
Seorang wisatawan yang datang pagi dan meninggalkan Tomohon pada sore hari memberikan dampak ekonomi yang berbeda dibandingkan wisatawan yang menginap selama beberapa malam.
Karena itu, tantangan Tomohon bukan hanya mendatangkan 400.000 kunjungan.
Tantangan yang lebih besar adalah mengubah kunjungan tersebut menjadi masa tinggal yang lebih panjang.
TIFF seharusnya menjadi pintu masuk untuk memperkenalkan destinasi lain yang berada di Tomohon dan sekitarnya.
Wisatawan yang datang untuk menyaksikan Tournament of Flowers dapat diarahkan untuk menikmati wisata alam, agrowisata, kuliner, sentra bunga dan berbagai produk ekonomi kreatif masyarakat.
Jika pola tersebut berhasil, maka dampak TIFF tidak akan berhenti di sepanjang jalur parade.
Dampaknya dapat menyebar ke berbagai kawasan.
Partisipasi internasional juga memperbesar peluang tersebut.
Kehadiran negara-negara sahabat membuat TIFF tidak hanya menjadi event lokal atau nasional, tetapi semakin kuat sebagai ruang diplomasi pariwisata.
Setiap peserta internasional membawa identitas dan cerita masing-masing.
Hal tersebut memperkaya parade sekaligus membuka peluang promosi Tomohon ke jaringan yang lebih luas.
Namun, semakin besar skala internasional sebuah festival, semakin tinggi pula standar yang harus dipenuhi.
Kebersihan kota, keamanan, transportasi, pelayanan wisatawan, pengelolaan parkir, akomodasi, informasi pariwisata hingga pengelolaan sampah menjadi bagian yang tidak dapat dipisahkan dari kualitas event.
Wisatawan yang datang tidak hanya menilai parade.
Mereka juga menilai kota.
Karena itu, TIFF sebenarnya menjadi semacam etalase besar bagi Tomohon.
Selama festival berlangsung, kota ini sedang memperlihatkan wajahnya kepada masyarakat Indonesia dan dunia.
Di sisi lain, perkembangan TIFF juga memperlihatkan perubahan pola promosi pariwisata.
Dahulu, kekuatan utama sebuah festival berada pada media konvensional dan jumlah penonton langsung.
Sekarang, satu kendaraan hias dapat menghasilkan ribuan konten digital dari wisatawan yang datang.
Foto, video pendek dan siaran langsung dari lokasi parade dapat menyebar jauh melampaui batas Kota Tomohon.
Dengan demikian, nilai promosi TIFF tidak berhenti ketika kendaraan hias selesai melewati panggung utama.
Konten yang dibuat wisatawan dapat terus beredar dan menjadi promosi destinasi secara tidak langsung.
Di sinilah TIFF memiliki modal besar untuk membangun destination branding Tomohon sebagai kota bunga.
Namun, branding tersebut harus diikuti dengan produk wisata yang kuat.
Wisatawan yang mengenal Tomohon karena TIFF harus memiliki alasan untuk kembali setelah festival berakhir.
Jika mereka hanya datang untuk melihat parade kemudian pulang, maka dampaknya cenderung bersifat sesaat.
Sebaliknya, jika mereka menemukan pengalaman wisata yang menarik dan akhirnya kembali pada waktu berbeda, TIFF telah berhasil menjadi mesin promosi destinasi.
Capaian ekonomi lebih dari Rp92 miliar pada 2024 juga menjadi pembanding penting.
Jika jumlah pengunjung terus meningkat, pertanyaan berikutnya bukan lagi berapa banyak wisatawan yang datang, tetapi apakah nilai ekonomi yang dihasilkan ikut meningkat.
Inilah yang seharusnya menjadi salah satu ukuran keberhasilan TIFF 2026.
Target 400.000 kunjungan memang ambisius. Tetapi target tersebut baru akan mempunyai makna lebih besar apabila diikuti peningkatan transaksi UMKM, tingkat hunian akomodasi, penyerapan bunga petani lokal, pendapatan pelaku usaha, konsumsi wisatawan serta lama tinggal.
Pada akhirnya, keberhasilan TIFF tidak ditentukan hanya oleh seberapa ramai jalanan Tomohon pada 8 Agustus.
Keberhasilan sebenarnya akan terlihat setelah seluruh rangkaian festival berakhir.
Apakah petani mendapatkan pasar yang lebih besar? Apakah florist dan pelaku ekonomi kreatif memperoleh pekerjaan? Apakah UMKM mengalami peningkatan omzet? Apakah hotel dan penginapan memperoleh manfaat? Apakah wisatawan tinggal lebih lama? Dan yang paling penting, apakah perputaran uang dari festival benar-benar masuk ke ekonomi masyarakat lokal?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut akan menentukan apakah TIFF 2026 hanya berhasil menciptakan rekor keramaian atau benar-benar berhasil menciptakan pertumbuhan ekonomi.
Dari sekitar 135.000 kunjungan pada 2016, meningkat menjadi sekitar 258.575 pada 2019, kemudian memasuki era lebih dari 300.000 kunjungan pada 2024, TIFF kini berada di ambang target baru.
Empat ratus ribu kunjungan adalah angka yang besar.
Tetapi angka tersebut sekaligus menjadi tantangan.
Tomohon tidak lagi hanya dituntut mampu membuat festival yang ramai. Tomohon dituntut mampu mengubah keramaian menjadi nilai ekonomi yang nyata, memperpanjang lama tinggal wisatawan, memperluas manfaat kepada masyarakat dan menjadikan festival sebagai pintu masuk bagi pertumbuhan pariwisata sepanjang tahun.
Jika target tersebut tercapai dan manfaat ekonominya dapat dibuktikan melalui data, TIFF 2026 berpotensi menjadi salah satu tonggak penting perjalanan pariwisata Tomohon.
Namun jika yang tercatat hanya jumlah kerumunan tanpa peningkatan manfaat ekonomi yang terukur, maka pekerjaan rumah Tomohon masih belum selesai.
Sebab pada akhirnya, festival yang sukses bukan hanya festival yang mampu mendatangkan banyak orang, tetapi festival yang mampu membuat masyarakat di sekitarnya ikut tumbuh.
- Penulis: (**/ARP)



Saat ini belum ada komentar