Prabowo Subianto Bertanya, “MBG Bermanfaat atau Tidak?” Buruh Serentak Menjawab “Tidak”
- account_circle (**/ARP)
- calendar_month Sabtu, 2 Mei 2026
- visibility 192
- comment 0 komentar
- print Cetak

Presiden Prabowo Subianto menyampaikan pidato saat peringatan Hari Buruh Internasional (May Day) 2026 di kawasan Monas, Jakarta, Kamis (1/5/2026)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
JAKARTA|PRONews5.com — Momen tak terduga terjadi saat Presiden Prabowo Subianto menghadiri peringatan Hari Buruh Internasional di kawasan Monumen Nasional (Monas), Kamis (1/5/2026).
Di tengah pidatonya, sebuah pertanyaan spontan yang dilontarkan Presiden justru memicu respons keras dari massa buruh.
“Saya bertanya kepada saudara-saudara, MBG bermanfaat atau tidak?” ujar Prabowo dari podium.
Pertanyaan itu langsung dijawab serentak oleh mayoritas buruh dengan teriakan, “Tidak!”
Suasana sempat hening beberapa detik. Presiden terlihat terdiam sejenak sebelum kembali melanjutkan pidatonya, menegaskan bahwa program MBG (Makan Bergizi Gratis) tetap menjadi prioritas pemerintah.
Menurut Prabowo, program tersebut dirancang untuk mengatasi persoalan gizi anak yang masih menjadi tantangan serius di Indonesia.
“MBG itu sangat penting untuk anak-anak kita. Banyak yang mengalami kurang gizi, pertumbuhannya tidak optimal. Ini bukan hanya soal makan, tapi masa depan bangsa,” katanya.
Ia juga menegaskan bahwa program tersebut memiliki dampak ekonomi yang luas.
Dengan kebutuhan bahan pangan dalam jumlah besar, MBG disebut akan mendorong perputaran ekonomi di sektor pertanian, peternakan, dan perikanan.
“Permintaan daging, telur, susu, ikan akan meningkat. Petani dan nelayan mendapat penghasilan. Uang beredar di masyarakat. Ini menggerakkan ekonomi nasional,” ujarnya.
Program MBG merupakan salah satu janji utama Prabowo sejak Pemilihan Presiden 2024, dengan target menjangkau sekitar 82 juta penerima manfaat di seluruh Indonesia.
Namun di sisi lain, program ini masih menuai kritik. Sejumlah ekonom menilai anggaran MBG yang besar berpotensi membebani keuangan negara, terutama di tengah upaya pemerintah menjaga stabilitas fiskal dan menghindari defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Selain itu, pelaksanaan program di lapangan juga menjadi sorotan, termasuk munculnya laporan dugaan kasus keracunan di beberapa daerah.
Kontroversi semakin berkembang setelah program ini digugat ke Mahkamah Konstitusi oleh pegiat media sosial, Lita Gading.
Video momen jawaban “tidak” dari buruh tersebut pun dengan cepat menyebar di berbagai platform media sosial dan memicu perdebatan luas di tengah masyarakat.
Peristiwa di Monas ini menjadi gambaran kontras antara optimisme pemerintah terhadap program unggulan dan respons sebagian kelompok pekerja yang masih mempertanyakan manfaat langsungnya.
Di tengah target besar yang dicanangkan, tantangan implementasi dan penerimaan publik menjadi pekerjaan rumah yang tak ringan bagi pemerintah.
- Penulis: (**/ARP)



Saat ini belum ada komentar