Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Artikel » Hardiknas dari Pinggiran: “Merdeka Belajar” yang Belum Sampai di Langsot

Hardiknas dari Pinggiran: “Merdeka Belajar” yang Belum Sampai di Langsot

  • account_circle Red Pronews
  • calendar_month Sabtu, 2 Mei 2026
  • visibility 242
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

PRONews5.com— Setiap 2 Mei, bangsa ini kembali menundukkan kepala sejenak dalam peringatan Hari Pendidikan Nasional. Pidato-pidato disampaikan, jargon pendidikan digaungkan, dan warisan pemikiran Ki Hajar Dewantara kembali dikutip tentang pendidikan yang memerdekakan manusia.

Namun di balik kemegahan seremoni itu, ada realitas yang jauh dari panggung perayaan.

Di sebuah sudut Desa Ranowangko, tepatnya di wilayah Langsot, kemerdekaan dalam pendidikan masih terasa seperti sesuatu yang jauh dan sulit dijangkau.

Langsot bukan sekadar wilayah relokasi. Ia adalah jejak panjang dari sebuah keputusan yang tidak pernah benar-benar dituntaskan.

Setelah banjir bandang 2006 memaksa warga meninggalkan tempat tinggal lama, mereka dipindahkan ke kawasan baru yang berjarak sekitar 20 kilometer dari pusat aktivitas desa.

Niat awalnya adalah menyelamatkan, tetapi waktu mengubahnya menjadi keterasingan yang sistematis.

Jarak yang jauh, akses yang terbatas, dan minimnya perhatian membuat Langsot tumbuh sebagai ruang yang terpisah, bukan hanya secara geografis, tetapi juga secara sosial dan ekonomi.

Dua puluh tahun berlalu tanpa kepastian yang benar-benar diberikan.

Sekitar 150 rumah bantuan pemerintah berdiri, dihuni oleh warga yang menggantungkan hidup di atas tanah yang status hukumnya belum jelas.

Tidak ada sertifikat, tidak ada bukti kepemilikan yang sah.

Dalam kondisi seperti ini, masyarakat bukan hanya kehilangan kepastian, tetapi juga kehilangan peluang.

Tanpa legalitas tanah, akses terhadap perbankan tertutup, kemampuan untuk berkembang terhambat, dan posisi tawar dalam pembangunan menjadi lemah.

Negara hadir membangun rumah, tetapi absen dalam memberikan jaminan yang lebih mendasar, yaitu kepastian hukum.

Namun persoalan tidak berhenti di situ. Jarak yang memisahkan Langsot dari pusat desa melahirkan dampak yang jauh lebih menyakitkan, terutama bagi generasi muda.

Anak-anak harus menempuh perjalanan panjang setiap hari untuk bersekolah. Jalan yang rusak, biaya transportasi yang tidak sedikit, dan kelelahan fisik menjadi bagian dari rutinitas yang harus mereka hadapi.

Dalam kondisi seperti ini, pendidikan tidak lagi menjadi hak yang mudah diakses, melainkan perjuangan yang harus ditebus dengan pengorbanan besar.

Tidak sedikit anak akhirnya menyerah. Mereka bukan tidak mampu, bukan pula tidak memiliki keinginan untuk belajar.

Mereka berhenti karena sistem tidak memberi ruang yang adil.

Putus sekolah di Langsot bukanlah kegagalan individu, melainkan kegagalan bersama dalam memastikan akses pendidikan yang setara.

Di saat negara berbicara tentang pembangunan sumber daya manusia dan visi besar Indonesia Emas 2045, kenyataan di Langsot menjadi ironi yang sulit diabaikan.

Di tengah kondisi yang stagnan itu, harapan justru muncul dari inisiatif anak-anak muda desa sendiri.

DR Community hadir sebagai bentuk kepedulian yang tidak menunggu perubahan datang dari atas.

Komunitas ini bergerak dengan semangat gotong royong, mengambil peran sebagai jembatan antara masyarakat dan pemerintah.

Mereka tidak hanya menyuarakan persoalan, tetapi juga turun langsung mencari solusi.

Perbaikan jalan yang dilakukan secara swadaya menjadi bukti bahwa perubahan bisa dimulai, bahkan dari keterbatasan.

Apa yang dilakukan oleh komunitas ini menunjukkan bahwa gotong royong bukan sekadar konsep lama yang dikenang, melainkan kekuatan nyata yang masih relevan untuk menjawab tantangan hari ini.

Jalan yang diperbaiki bukan hanya mempermudah mobilitas, tetapi juga membuka kembali harapan, menghubungkan warga dengan akses ekonomi, dan memberi peluang bagi anak-anak untuk kembali mendekati pendidikan.

Meski demikian, upaya masyarakat tidak bisa menggantikan peran negara sepenuhnya.

Masalah yang dihadapi Langsot membutuhkan kehadiran pemerintah yang lebih serius dan terukur.

Kepastian hukum atas tanah harus segera diselesaikan agar warga memiliki dasar yang kuat untuk membangun kehidupan.

Akses pendidikan perlu dihadirkan lebih dekat, baik melalui fasilitas transportasi maupun pembangunan sarana pendidikan yang menjangkau wilayah relokasi.

Pemberdayaan masyarakat juga harus dilakukan secara berkelanjutan agar warga tidak terus berada dalam lingkaran keterbatasan.

Langsot pada akhirnya menjadi cermin yang jujur tentang bagaimana pembangunan dijalankan.

Kemajuan tidak bisa hanya diukur dari pusat kota yang berkembang, tetapi harus dilihat dari kondisi masyarakat yang berada di pinggiran.

Di tempat seperti Langsot, kita bisa melihat apakah keadilan benar-benar diwujudkan atau hanya menjadi retorika.

Pada momentum Hari Pendidikan Nasional ini, pertanyaan yang perlu diajukan bukan lagi seberapa meriah perayaan yang dilakukan, tetapi seberapa jauh makna pendidikan itu benar-benar dirasakan oleh seluruh masyarakat.

Jika masih ada anak yang harus berhenti sekolah karena jarak dan keterbatasan, maka kemerdekaan dalam pendidikan belum sepenuhnya tercapai.

Langsot tidak membutuhkan belas kasihan. Ia membutuhkan kehadiran, perhatian, dan keberpihakan yang nyata.

Selama itu belum terwujud, maka setiap peringatan Hardiknas akan selalu menyisakan pertanyaan yang sama.

Apakah pendidikan sudah benar-benar memerdekakan semua, atau masih ada yang tertinggal di jalan yang rusak menuju masa depan mereka.

Di titik inilah gotong royong menemukan maknanya yang paling dalam.

Ia bukan hanya warisan, tetapi jalan yang harus ditempuh bersama. Dari sana, harapan untuk menghadirkan keadilan dan kemerdekaan yang sesungguhnya masih bisa diperjuangkan.

 

Penulis:
Dr. (Cand) Heidi Kristian Repi, S.Pd., Gr., M.Pd.
Ketua DR Community | Anak Desa Ranowangko | Penulis Novel

 

  • Penulis: Red Pronews

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Rp13,2 Triliun Diserahkan ke Negara Prabowo Buka Hasil Kerja Satgas PKH

    Rp13,2 Triliun Diserahkan ke Negara Prabowo Buka Hasil Kerja Satgas PKH

    • calendar_month Selasa, 6 Okt 2026
    • account_circle (**/NOX)
    • visibility 66
    • 0Komentar

    JAKARTA, PRONEWS5.COM — Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto menyaksikan penyerahan dana pemulihan aset negara sebesar Rp13,24 triliun dari penindakan kejahatan sektor kehutanan di Gedung Utama Kejaksaan Agung, Jakarta, Selasa (6/10/2026). Dana jumbo tersebut dihimpun oleh Satuan Tugas Penertiban Kawasan Hutan (Satgas PKH) melalui penindakan hukum terpadu terhadap korporasi kelapa sawit dan pertambangan tanpa izin di kawasan […]

  • Police Line Tak Bertahan Tambang Ilegal Bowone Kembali Beraktivitas Warga Minta Kapolda Turun Tangan

    Police Line Tak Bertahan Tambang Ilegal Bowone Kembali Beraktivitas Warga Minta Kapolda Turun Tangan

    • calendar_month Rabu, 9 Sep 2026
    • account_circle (**/Frank)
    • visibility 108
    • 0Komentar

    SANGIHE, PRONEWS5.COM — Garis polisi atau police line ternyata belum sepenuhnya menghentikan dugaan aktivitas penambangan ilegal di wilayah Desa Bowone, Kabupaten Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara. Sekitar dua bulan setelah operasi gabungan aparat penegak hukum (APH) dilakukan di kawasan tersebut, aktivitas yang diduga berkaitan dengan pertambangan kembali terpantau. Informasi tersebut diperoleh dari sejumlah warga Sangihe yang […]

  • Swasembada Protein Digenjot lewat Hilirisasi Ayam Terintegrasi

    • calendar_month Kamis, 12 Feb 2026
    • account_circle rafael
    • visibility 347
    • 0Komentar

    Jakarta – Pemerintah terus memperkuat agenda swasembada protein nasional melalui pengembangan hilirisasi ayam terintegrasi dari hulu hingga hilir. Program ini dirancang untuk memastikan ketersediaan daging ayam dan telur yang aman, berkelanjutan, serta merata di seluruh wilayah Indonesia, sekaligus memperkuat posisi peternak rakyat dalam rantai nilai industri perunggasan nasional. Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian […]

  • Braien Waworuntu dan Melisa Gerungan Ajak Warga Sukseskan TIFF 2026

    Braien Waworuntu dan Melisa Gerungan Ajak Warga Sukseskan TIFF 2026

    • calendar_month Senin, 29 Jun 2026
    • account_circle Red Pronews
    • visibility 341
    • 0Komentar

    TOMOHON, PRONEWS5.COM – Anggota DPRD Provinsi Sulawesi Utara dari Daerah Pemilihan Minahasa–Kota Tomohon, Braien R.L. Waworuntu, bersama Melisa Gerungan, mengajak seluruh masyarakat Sulawesi Utara dan para pendukung untuk bersama-sama menyukseskan Tomohon International Flower Festival (TIFF) 2026 yang akan digelar pada 7–12 Agustus 2026 di Kota Tomohon. Ajakan tersebut disampaikan Braien Waworuntu kepada PRONEWS5.COM, Senin (29/6/2026). […]

  • Insentif SPPG–MBG Dibayar Sesuai Hari Operasional

    • calendar_month Selasa, 24 Feb 2026
    • account_circle rafael
    • visibility 358
    • 0Komentar

    Jakarta—Badan Gizi Nasional (BGN) menegaskan mekanisme insentif bagi mitra Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dibayarkan secara adil dan terukur, mengikuti hari operasional. Skema ini dinilai memperkuat kepastian layanan, menjaga kesiapan dapur gizi, sekaligus memastikan uang negara bekerja efektif untuk kebutuhan anak Indonesia. Wakil Kepala BGN Sony Sanjaya menjelaskan, operasional […]

  • Pemberantasan Korupsi Tingkatkan Dukungan Publik kepada Presiden Prabowo

    • calendar_month Sabtu, 14 Feb 2026
    • account_circle rafael
    • visibility 328
    • 0Komentar

    Jakarta – Pemberantasan korupsi menjadi fondasi penting dalam membangun kepercayaan publik terhadap kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto. Hasil survei terbaru yang dirilis lembaga Indikator Politik Indonesia menunjukkan tingkat kepuasan masyarakat terhadap kinerja Presiden Prabowo mencapai 79,9 persen. Angka ini mencerminkan mayoritas responden menyatakan puas terhadap kinerja pemerintahan yang baru memasuki tahun kedua ini, dan pemberantasan korupsi menjadi salah […]

expand_less