Reshuffle Senyap Tapi Mengguncang: Prabowo Subianto Rombak Kabinet, Jenderal hingga Tokoh Buruh Masuk Lingkar Inti
- account_circle (**/VIC)
- calendar_month Senin, 27 Apr 2026
- visibility 497
- comment 0 komentar
- print Cetak

Sejumlah pejabat yang dilantik Presiden Prabowo Subianto mengikuti prosesi pengambilan sumpah jabatan dalam reshuffle Kabinet Merah Putih di Istana Negara, Senin (27/4/2026), di antaranya Jumhur Hidayat, Dudung Abdurrachman, Muhammad Qodari, Hasan Nasbi, serta Abdul Kadir Karding. (Foto: Dok)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
JAKARTA, Pronews5.com – Presiden Prabowo Subianto resmi melakukan perombakan (reshuffle) Kabinet Merah Putih dengan melantik sejumlah menteri dan pejabat setingkat di Istana Negara, Senin (27/4/2026). Langkah ini bukan sekadar rotasi jabatan, melainkan sinyal kuat penataan ulang kekuasaan di jantung pemerintahan.
Perombakan ini terjadi di tengah tekanan kinerja kabinet dan dinamika politik nasional yang kian kompleks. Sejumlah nama digeser, sebagian “diturunkan kelas”, sementara figur baru justru masuk ke posisi strategis.
Salah satu manuver paling mencolok terjadi di Kementerian Lingkungan Hidup.
Hanif Faisol Nurofiq yang sebelumnya menjabat sebagai Menteri Lingkungan Hidup, kini tidak lagi berada di kursi utama. Ia digeser menjadi Wakil Menteri Koordinator Bidang Pangan, mendampingi Zulkifli Hasan.
Penurunan posisi ini memicu tafsir politik: apakah sekadar rotasi atau bentuk evaluasi kinerja?
Posisi Menteri Lingkungan Hidup kini dipercayakan kepada Jumhur Hidayat.
Tokoh buruh itu sekaligus dilantik sebagai Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup, jabatan ganda yang menandakan penguatan kendali pemerintah di sektor lingkungan.
Masuknya Jumhur dinilai sebagai langkah tak biasa, mengingat latar belakangnya yang kuat di gerakan buruh, bukan birokrasi lingkungan.
Ini bisa dibaca sebagai upaya pemerintah merangkul basis sosial sekaligus mengubah pendekatan kebijakan lingkungan.
Di lingkaran Istana, pergeseran tak kalah tajam terjadi pada posisi Kepala Staf Kepresidenan (KSP).
Muhammad Qodari yang sebelumnya memimpin KSP, kini dipindahkan menjadi Kepala Badan Komunikasi Pemerintah Republik Indonesia (Bakom RI).
Kursi KSP yang ditinggalkan Qodari justru diberikan kepada figur militer: Dudung Abdurrachman, mantan KSAD yang sebelumnya menjabat Penasihat Khusus Presiden Bidang Pertahanan Nasional.
Penunjukan Dudung menguatkan aroma militer di pusat kekuasaan sipil, sekaligus memberi pesan bahwa stabilitas dan kontrol menjadi prioritas utama pemerintahan saat ini.
Di sisi lain, Hasan Nasbi kembali masuk dalam lingkar inti kekuasaan sebagai Penasihat Khusus Presiden Bidang Komunikasi. Kembalinya Hasan mempertegas pentingnya pengendalian narasi publik di era pemerintahan Prabowo.
Sementara itu, pergeseran juga menyasar sektor perlindungan pekerja migran.
Abdul Kadir Karding yang sebelumnya menjabat Menteri Pelindungan Pekerja Migran Indonesia, kini dipercaya memimpin Badan Karantina Indonesia—posisi strategis yang berkaitan langsung dengan ketahanan pangan dan biosekuriti nasional.
Prosesi pelantikan berlangsung khidmat di Istana Negara, ditandai dengan pengambilan sumpah jabatan yang dipandu langsung oleh Presiden.
Para pejabat yang dilantik berjanji menjalankan tugas dengan integritas, loyalitas, dan penuh tanggung jawab.
Namun di balik seremoni itu, reshuffle ini menyisakan pertanyaan besar: apakah ini langkah penyegaran biasa, atau bagian dari konsolidasi kekuasaan yang lebih dalam?
Satu hal yang pasti, komposisi baru Kabinet Merah Putih kini menunjukkan arah berbeda lebih politis, lebih terkonsolidasi, dan berpotensi mengubah peta kebijakan nasional ke depan.
- Penulis: (**/VIC)
- Editor: Christo Senduk



Saat ini belum ada komentar