Trump Klaim Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei Tewas
- account_circle rafael
- calendar_month Minggu, 1 Mar 2026
- visibility 697
- comment 0 komentar
- print Cetak
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
WASHINGTON/TEHERAN, PRONews5.com – Dunia dikejutkan kabar kematian Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, yang dilaporkan tewas dalam serangan udara gabungan Amerika Serikat dan Israel di Teheran, Sabtu (28/2/2026).
Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengonfirmasi kabar tersebut melalui unggahan di Truth Social, Minggu (1/3/2026) pagi waktu setempat, menyebutnya sebagai “peluang terbesar bagi rakyat Iran untuk merebut kembali negara mereka.”
Dalam unggahannya, Trump menyebut kematian Khamenei sebagai “peluang tunggal terbesar bagi rakyat Iran untuk merebut kembali negara mereka.”
Ia juga mengklaim adanya perpecahan serius di tubuh militer dan aparat keamanan Iran, termasuk Garda Revolusi (IRGC), yang disebut mulai enggan bertempur dan mencari perlindungan.

Pernyataan Trump muncul setelah Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu sebelumnya menyampaikan indikasi kuat bahwa Khamenei tewas dalam serangan udara gabungan AS-Israel pada Sabtu (28/2/2026).
Media pemerintah Iran kemudian menyiarkan kabar duka tersebut.
Khamenei dilaporkan tewas saat berada di kantornya di Teheran ketika serangan udara mengguncang kompleks strategis yang menjadi pusat komando kepemimpinan.
Seorang pejabat senior Israel, dikutip dari Reuters, menyebut jenazah Khamenei telah ditemukan di lokasi yang menjadi sasaran.
Meski demikian, rincian teknis mengenai proses identifikasi maupun kronologi lengkap serangan belum dipaparkan secara terbuka oleh otoritas Iran.
Situasi di Teheran dilaporkan berada dalam pengamanan ketat dengan aktivitas militer meningkat signifikan.
Dalam pernyataannya, Trump tidak hanya mengonfirmasi kematian Khamenei, tetapi juga mengklaim adanya retakan di dalam struktur militer Iran, termasuk Korps Garda Revolusi Islam (IRGC).
Ia menyebut sejumlah personel keamanan disebut-sebut enggan melanjutkan konfrontasi dan mulai mencari perlindungan.
Pernyataan tersebut belum mendapat tanggapan resmi dari pihak militer Iran.
Namun jika benar, dinamika internal itu berpotensi mempercepat perubahan politik di negara yang telah dipimpin Khamenei sejak 1989 tersebut.
Reaksi keras datang dari putra mahkota Iran di pengasingan, Reza Pahlavi. Ia menyebut kematian Khamenei sebagai titik balik sejarah dan menganggap praktik Republik Islam telah berakhir secara de facto.
Melalui pernyataan di media sosial, Pahlavi menyerukan mobilisasi rakyat dan meminta aparat keamanan tidak mempertahankan sistem yang menurutnya telah kehilangan legitimasi.
Ia bahkan menyebut momen ini sebagai kesempatan terakhir bagi militer untuk berpihak pada rakyat.
Pemerintah disebut akan memberlakukan masa berkabung nasional selama 40 hari, sesuai tradisi keagamaan Syiah.
Kematian Khamenei menjadi pukulan telak bagi Republik Islam yang berdiri sejak Revolusi 1979 di bawah kepemimpinan Ruhollah Khomeini.
Selama lebih dari tiga dekade, Khamenei menjadi figur sentral dalam kebijakan luar negeri, strategi militer, dan ideologi negara.
Sosok Sentral Republik Islam
- Penulis: rafael



Saat ini belum ada komentar