Prabowo Subianto dan Minahasa–Sulawesi Utara
- account_circle Red Pronews
- calendar_month Senin, 22 Jun 2026
- visibility 277
- comment 0 komentar
- print Cetak

Presiden Republik Indonesia ke-8, Jenderal TNI (Purn.) H. Prabowo Subianto Djojohadikusumo
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Oleh: Markus Wauran
Presiden Prabowo Subianto (selanjutnya ditulis Prabowo) adalah keturunan Jawa–Minahasa. Ayah Prabowo bernama Sumitro Djojohadikusumo, asal Kebumen, Jawa Tengah, dan ibunya bernama Dora Marie Sigar, asal Langowan, Minahasa, Sulawesi Utara.
Saat Prabowo menjadi calon Presiden R.I. periode 2024–2029, muncul rasa kebanggaan dari rakyat Minahasa–Sulawesi Utara, karena dalam sejarah Republik Indonesia sesudah merdeka, baru kali ini ada calon Presiden yang berdarah Minahasa.
Kebanggaan tersebut tercermin dalam hasil pemungutan suara pada Pemilu yang lalu, di mana Prabowo menang mutlak di Sulawesi Utara dengan perolehan suara di atas 70 persen, yang menjadi salah satu capaian tertinggi dibandingkan daerah lain di seluruh Nusantara.
Hasil ini tentu menjadi kebanggaan tersendiri bagi Prabowo beserta keluarga, sekaligus menegaskan kedekatan emosional dengan rakyat Minahasa–Sulawesi Utara.
Namun, dalam perjalanan waktu sejak Prabowo dilantik sebagai Presiden R.I. pada 20 Oktober 2024 hingga saat ini, muncul sejumlah keprihatinan yang dirasakan sebagian masyarakat, baik dari sisi ke-Minahasaan maupun ke-Prabowoan.
Dari sisi ke-Minahasaan, saat Prabowo terpilih dan dilantik sebagai Presiden, menurut norma ketradisian Minahasa, semestinya ada pesta rakyat di Minahasa–Sulawesi Utara, Jakarta, dan berbagai daerah lain, termasuk luar negeri.
Selain itu, diharapkan pula adanya doa syukuran massal yang melibatkan pemuka agama Kristen, Islam, dan agama lainnya di berbagai wilayah.
Tak hanya itu, terdapat harapan agar tokoh-tokoh dan organisasi Kawanua dapat bertemu langsung dengan Presiden Prabowo untuk menyampaikan ucapan selamat sekaligus doa syukur.
Namun, hal tersebut belum terwujud sebagaimana yang diharapkan sebagian masyarakat.
Dari sisi ke-Prabowoan, muncul harapan bahwa dengan Prabowo menjadi Presiden, akan lebih banyak putra-putri terbaik Minahasa–Sulawesi Utara yang dipercaya menduduki posisi strategis dalam Kabinet Merah Putih, berdasarkan kapasitas, pengalaman, dan kompetensi.
Namun, realitas yang terjadi dinilai belum sepenuhnya sesuai harapan sebagian pihak. Hal serupa juga terjadi dalam dinamika Pilkada Sulawesi Utara 2025, di mana muncul ekspektasi agar figur putra Minahasa mendapat dukungan penuh.
Akan tetapi, keputusan politik yang diambil dinilai berbeda dari harapan sebagian masyarakat, sehingga memunculkan beragam respons dan komentar di ruang publik.
Sejak awal masa jabatan Presiden Prabowo, beredar berbagai kabar mengenai rencana kunjungan ke Minahasa–Sulawesi Utara, termasuk ke Langowan sebagai kampung halaman ibunya.
Namun hingga kini, kunjungan tersebut belum terlaksana, meskipun beberapa kali disebut telah masuk agenda.
Kabar lain menyebutkan bahwa Prabowo sempat direncanakan menghadiri Perayaan Paskah di Minahasa–Sulawesi Utara, namun yang hadir justru diwakili oleh adiknya, Hashim Djojohadikusumo. Situasi ini menimbulkan berbagai tafsir di tengah masyarakat.
Berbagai spekulasi kemudian berkembang, termasuk dugaan adanya kekecewaan terhadap kepemimpinan Gubernur Sulawesi Utara Yulius Stevanus Komaling (Yulius S.K.).
Namun demikian, isu tersebut belum dapat dipastikan kebenarannya dan tetap berada dalam ranah interpretasi publik.
Kunjungan Presiden Prabowo ke Pulau Miangas, Kabupaten Kepulauan Talaud, pada awal Mei 2026 dalam perjalanan dari Cebu, Filipina, juga menjadi sorotan.
Dalam kunjungan tersebut, tidak terlihat kehadiran pejabat tingkat provinsi seperti Gubernur, Kapolda, Pangdam, maupun Kejati.
Setelah kegiatan di Miangas, Presiden Prabowo dilaporkan tidak singgah di Manado atau wilayah Minahasa, melainkan melanjutkan perjalanan melalui Gorontalo menuju Jakarta.
Hal ini kembali memunculkan berbagai analisis di tengah masyarakat.
Hingga saat ini, sebagian masyarakat menilai bahwa belum terlihat proyek-proyek besar berskala nasional maupun internasional yang secara khusus berkembang di Minahasa–Sulawesi Utara.
Kondisi ini memunculkan berbagai pandangan terkait faktor-faktor yang memengaruhinya, baik dari sisi kebijakan maupun komunikasi politik daerah dan pusat.
Di tengah berbagai persepsi yang berkembang, terdapat pandangan lain yang menilai bahwa situasi tersebut tidak semata-mata berkaitan dengan faktor individu atau kepemimpinan daerah, melainkan juga dipengaruhi oleh dinamika sejarah politik dan relasi panjang yang kompleks antara berbagai pihak dalam perjalanan politik nasional.
Seiring berjalannya waktu, diharapkan terbuka ruang yang lebih luas untuk saling memahami dan saling memaafkan, baik antara elemen ke-Kawanuaan maupun ke-Prabowoan.
Sejarah masa lalu diharapkan menjadi pembelajaran bersama agar tidak terulang kembali di masa depan.
Dalam situasi penuh tantangan saat ini, masyarakat Tou Kawanua diharapkan tetap berperan aktif, tidak berdiam diri, serta mendukung kebijakan pemerintah dengan sikap positif, kritis, dan konstruktif.
Di sisi lain, diharapkan pula adanya ruang komunikasi yang terbuka antara Presiden dan masyarakat Minahasa–Sulawesi Utara untuk berdiskusi secara berkualitas demi kemajuan bangsa.
Akhirnya, perlu diingat bahwa suksesnya Prabowo adalah juga bagian dari suksesnya Minahasa–Sulawesi Utara, dan kegagalan Prabowo dapat berdampak pada daerah ini.
SI TOU TIMOU TUMOU TOU
PAKATUAN WO PAKALOWIREN
Jakarta, 20 Juni 2026
Markus Wauran
Tou Amurang–Minahasa
- Penulis: Red Pronews



Saat ini belum ada komentar