Nyaris Bentrok, Pemblokiran Jalan Baru di Pinasungkulan Picu Ketegangan Warga
- account_circle (**/RED)
- calendar_month Minggu, 26 Apr 2026
- visibility 294
- comment 0 komentar
- print Cetak

Sejumlah warga memblokir akses jalan baru di Kelurahan Pinasungkulan, Kecamatan Ranowulu, Kota Bitung, menggunakan pagar seng dan drum beton hingga memicu ketegangan antarwarga, Sabtu (25/4/2026). (Video tangkapan layar)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
BITUNG|Pronews5.com – Ketegangan antarwarga terhentinya bentrokan akibat aksi pemblokiran akses jalan baru di Kelurahan Pinasungkulan, Kecamatan Ranowulu, Kota Bitung, Sabtu (25/4/2026) sore. Insiden terjadi di pintu masuk jalan baru, tepat di sekitar kantor kelurahan setempat.
Aksi pemblokiran dilakukan warga sejak dua hari terakhir dengan memasang kembali pagar seng serta menempatkan drum berisi cor beton di badan jalan.
Jalan tersebut diketahui merupakan proyek yang dibangun PT MSM/TTN melalui Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) Kementerian PUPR.
Kericuhan bermula saat sejumlah pengguna jalan, sebagian besar ibu rumah tangga dari arah Likupang menuju Bitung, berusaha melewati jalur tersebut namun terhalang.
Mereka kemudian mencoba membuka blokade, namun dihadang warga yang mempertahankan penutupan jalan.
Adu argumen pun tak terhindarkan. Situasi sempat memanas sebelum akhirnya aparat gabungan dari Polres Bitung, Polsek Ranowulu, dan TNI dari Kodim 1310/Bitung turun tangan meredakan ketegangan.
Kelompok warga yang mendukung pemblokiran menyatakan aksi tersebut sebagai bentuk tekanan kepada pihak perusahaan agar segera memperbaiki jalan lama penghubung Bitung–Likupang yang kondisinya rusak parah dan terancam ambruk.
“Sebenarnya bukan soal menolak jalan baru. Tapi perbaiki dulu jalan lama supaya masih bisa digunakan,” ujar Jemmy Mailoor, salah satu warga.
Ia mengaku khawatir jika jalan baru difungsikan penuh, perhatian terhadap perbaikan jalan lama akan diabaikan, padahal akses tersebut masih diperlukan, terutama oleh warga yang memiliki lahan di sekitar jalur lama.
Sebaliknya, warga yang menolak pemblokiran menilai langkah tersebut justru membahayakan masyarakat luas. Mereka menyebut kondisi jalan lama sudah tidak layak dilalui dan berisiko tinggi.
“Kalau lewat di situ kita was-was. Jalannya bisa ambles sewaktu-waktu,” ungkap sejumlah warga.
Penolakan juga datang dari pengguna jalan di luar wilayah Pinasungkulan, termasuk warga Minahasa Utara yang selama ini bergantung pada akses tersebut.
“Kami mengerti akan tuntutan warga, tapi ini fasilitas umum. Jangan ditutup karena berdampak pada banyak orang,” tegas Stenly Sigar, warga Likupang Timur.
Hal senada disampaikan Marky Kaunang, warga Pinokalan, yang mengakui aktivitasnya terganggu akibat penutupan jalan baru.
“Terpaksa harus lewat jalan lama yang rusaknya parah. Ini sangat menghambat,” keluhnya.
Warga mendesak Pemerintah Kota Bitung bersama aparat keamanan segera mengambil langkah tegas guna mencegah meluasnya konflik.
“Kalau tidak ditangani, ini bisa memicu bentrokan lebih besar,” ujar warga lainnya.
Sementara itu, Kabag Ops Polres Bitung,
AKP Novri Sadia mengatakan telah mengantisipasi potensi konflik sejak awal.
“Kami sudah menerima informasi terkait potensi kerawanan, sehingga langsung melakukan pengamanan.
Syukurlah situasi dapat dikendalikan,” singkatnya.
Hingga berita ini diturunkan, situasi di lokasi terpantau kondusif meski ketegangan antarwarga masih terasa. Pemerintah diharapkan segera turun tangan mencari solusi agar konflik tidak kembali panas.
- Penulis: (**/RED)



Saat ini belum ada komentar