Petani Ranowangko Maju Pilkades, Anaknya Siapkan Gerakan “Laskar Pelangi” dengan Potensi Rp1,5 Miliar
- account_circle (**/ARP)
- calendar_month Senin, 20 Apr 2026
- visibility 507
- comment 0 komentar
- print Cetak

Dani Repi (kiri) bersama putranya, Heidi Kristian Repi, dalam momen wisuda; sosok petani sederhana yang kini maju sebagai calon Hukum Tua Ranowangko, sementara sang anak menyiapkan novel Heski Hendom sebagai gerakan literasi dan ekonomi kreatif desa. (Foto: Istimewa/dok)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
MINAHASA, PRONEWS5.COM — Di saat naskah telah rampung dan proses peluncuran tinggal menunggu waktu, sebuah keputusan tak biasa justru diambil Heidi Kristian Repi. Kandidat Doktor Manajemen Pendidikan asal Sulawesi Utara itu memilih menunda peluncuran novel ketiganya berjudul Heski Hendom.
Langkah tersebut bukan dipicu persoalan teknis penerbitan, melainkan karena sebuah momentum di dunia nyata yang dinilainya jauh lebih penting untuk diabadikan.
Sosok utama dalam novel tersebut, Dani Repi, yang juga merupakan ayah kandungnya, secara tak terduga didorong masyarakat untuk maju sebagai calon Hukum Tua (Kepala Desa) Ranowangko, Kecamatan Tombariri, Kabupaten Minahasa, Provinsi Sulawesi Utara (Sulut).
Dalam wawancara khusus bersama wartawan PRONews5.com pada Senin (20/4/2026), Heidi mengungkapkan bahwa keputusan menunda peluncuran bukanlah hal mudah.
Ia menyebut, di detik-detik terakhir menjelang proses cetak, dirinya justru merasa ada bagian penting yang belum selesai dituliskan.
“Seharusnya buku ini sudah masuk tahap distribusi. Tapi saya merasa cerita ini belum utuh, karena ada bab yang sedang berlangsung di dunia nyata,” ujar Heidi.
Situasi ini mengubah arah naskah. Ia memilih menahan peluncuran dan menambahkan satu bab baru yang akan merekam secara langsung perjalanan politik sang ayah dalam kontestasi desa.
Sebuah keputusan yang jarang diambil penulis, yakni menunda karya yang telah selesai demi memberi ruang pada realitas yang masih berlangsung.
“Pena ini terhenti sejenak, bukan karena kehabisan tinta, melainkan karena Tuhan sedang menuliskan bab paling penting bagi keluarga kami dan desa ini,” katanya lagi.
Novel Heski Hendom sejatinya merupakan otobiografi keluarga yang merekam perjuangan keluar dari kemiskinan melalui pendidikan yang oleh Heidi disebut sebagai “Kurikulum Langit”.
Namun dinamika yang terjadi di Ranowangko membuat karya ini berkembang menjadi lebih dari sekadar catatan masa lalu.
Ia berubah menjadi dokumentasi hidup tentang pergulatan, harapan, dan proses demokrasi di tingkat akar rumput.
Dalam wawancara tersebut, Heidi menegaskan bahwa hasil pemilihan bukanlah inti dari cerita yang ingin ia abadikan. Baginya, proses jauh lebih penting daripada hasil akhir.
“Terpilih atau tidak, itu bukan poin utama. Yang ingin saya rekam adalah bagaimana seorang petani yang sederhana bisa didorong oleh rakyat untuk memimpin. Itu nilai yang jauh lebih besar,” ujarnya.
Penundaan peluncuran buku tidak mengubah komitmen utama yang telah ia tetapkan sejak awal.
Heidi memastikan bahwa seluruh hasil penjualan novel Heski Hendom akan disumbangkan untuk pembangunan Desa Ranowangko.
Dalam perbincangan itu, ia juga memaparkan proyeksi ekonomi dari karya tersebut yang dinilai cukup signifikan.
“Kalau buku ini bisa masuk ke ribuan sekolah di Sulawesi Utara, kita bicara potensi hingga Rp1,5 miliar. Ini bukan mimpi, ini hitungan realistis berbasis ekonomi kreatif,” ungkapnya.
Ia menegaskan, konsep yang diusung bukanlah eksploitasi sumber daya alam, melainkan pembangunan berbasis gagasan dan literasi. Menurutnya, desa bisa tumbuh tanpa harus merusak lingkungan.
“Ini pembangunan tanpa harus mengeruk pasir laut atau menebang pohon. Kekuatan gagasan bisa menjadi sumber ekonomi baru,” tegas Heidi.
Visi yang dibangun pun tidak sederhana. Ia ingin menghadirkan efek yang serupa dengan Laskar Pelangi, sebuah karya yang mampu mengangkat daerah melalui kekuatan cerita dan literasi.
Ranowangko dibayangkan berkembang sebagai desa berbasis ekonomi kreatif, dengan wisata edukasi yang berangkat dari sejarah perjuangan keluarga hingga mampu memperkuat kemandirian ekonomi desa.
Di balik semua gagasan besar itu, Heidi menyadari bahwa seluruh pencapaiannya berakar dari kehidupan sederhana. Ayahnya adalah seorang petani yang merintis hidup dari rumah berdinding bambu, dengan kerja keras dan doa sebagai fondasi utama keluarga.
“Gelar yang saya raih tidak ada artinya dibanding peluh bapak di ladang dan doa ibu,” tuturnya.
Kini, Heski Hendom bukan lagi sekadar karya sastra. Ia telah menjelma menjadi catatan hidup yang masih terus ditulis, bukan hanya oleh penulisnya, tetapi oleh dinamika yang berkembang di tengah masyarakat Desa Ranowangko.
Peluncurannya mungkin tertunda, tetapi kisahnya justru sedang mencapai titik paling menentukan. Bab terakhirnya belum selesai dan akan ditentukan oleh pilihan rakyat.
- Penulis: (**/ARP)
- Editor: Christo Senduk



Saat ini belum ada komentar