Kontras Penanganan Ikan Sapu-Sapu: DKI Bergerak, Minahasa Masih Menunggu
- account_circle (**/ARP)
- calendar_month Kamis, 30 Apr 2026
- visibility 253
- comment 0 komentar
- print Cetak

Petugas dan warga di DKI Jakarta bersama-sama melakukan penangkapan dan pengangkutan ikan sapu-sapu dalam aksi lapangan di aliran Sungai Ciliwung, sebagai upaya menekan populasi spesies invasif yang mengancam ekosistem perairan. (Foto:Dok)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
MINAHASA|PRONEWS5.COM — Penanganan ledakan ikan sapu-sapu di Danau Tondano memperlihatkan perbedaan mencolok. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta bersama masyarakat turun langsung ke lapangan, sementara Pemerintah Kabupaten Minahasa dinilai belum menunjukkan langkah nyata selain rapat koordinasi.
Fenomena ini terjadi pada April 2026, saat populasi ikan sapu-sapu di Danau Tondano meningkat tajam. Nelayan mengaku hasil tangkapan mereka terus menurun karena jaring lebih banyak berisi ikan sapu-sapu dibanding ikan konsumsi.
“Ikan ini sudah kuasai danau. Setiap jaring kami angkat, isinya sapu-sapu. Kami tangkap lalu buang ke darat supaya tidak berkembang lagi,” ujar salah satu nelayan.
Selain di danau, penyebaran ikan ini telah mencapai daerah aliran sungai (DAS), memperluas ancaman terhadap ekosistem perairan.
Di Sungai Ciliwung dan sejumlah waduk di Jakarta, pemerintah bersama komunitas melakukan penangkapan massal dan pengendalian populasi secara langsung.
Kegiatan ini berlangsung rutin sebagai upaya menjaga keseimbangan ekosistem dan menekan dominasi spesies invasif.
Sebaliknya di Minahasa, nelayan menyebut mereka bergerak sendiri tanpa dukungan fasilitas maupun program lapangan.
“Di Jakarta pemerintah turun bersama masyarakat. Di sini, kami hanya dengar rapat. Tapi di lapangan, kami yang kerja sendiri,” kata warga.
Secara ilmiah, ikan sapu-sapu memiliki kemampuan reproduksi tinggi.
Satu induk betina mampu menghasilkan ratusan hingga lebih dari seribu telur dalam satu siklus.
Kondisi ini membuat pertumbuhan populasi berlangsung cepat dan sulit dikendalikan jika tidak ditangani sejak awal.
Variasi ukuran ikan yang tertangkap dari kecil hingga besar menunjukkan proses perkembangbiakan terjadi terus-menerus di Danau Tondano.
Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Minahasa, Lendy Aruperes, menyatakan laporan telah disampaikan kepada pimpinan dan penanganan akan dilakukan bersama masyarakat dalam waktu dekat.
Namun, nelayan berharap langkah tersebut segera terlihat di lapangan, bukan hanya dalam pertemuan koordinasi.
Jika tidak dilakukan penanganan cepat dan terukur, Danau Tondano berisiko mengalami penurunan kualitas lingkungan, hilangnya ikan lokal, serta dampak ekonomi bagi nelayan yang bergantung pada danau tersebut.
- Penulis: (**/ARP)
- Editor: Christo Senduk



Saat ini belum ada komentar