Alat Berat Milik Tambang Ilegal Diduga Jadi Biang Kerok Jalan Mitra–Boltim Rusak
- account_circle (**/ARP)
- calendar_month Kamis, 16 Apr 2026
- visibility 450
- comment 0 komentar
- print Cetak

(Gambar: ilustrasi/dok)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
MANADO, PRONEWS5.COM — Kerusakan jalan di wilayah Kabupaten Minahasa Tenggara (Mitra) dan Bolaang Mongondow Timur (Boltim) diduga dipicu oleh mobilisasi alat berat milik tambang ilegal yang diangkut menggunakan truk tronton bermuatan berlebih (overload).
Dugaan ini menguat setelah hasil investigasi lapangan menemukan indikasi kuat aktivitas kendaraan berat yang melampaui batas tonase.
Dugaan ini menguat setelah hasil investigasi lapangan menemukan indikasi kuat aktivitas kendaraan berat yang melampaui batas tonase.
Temuan tersebut diungkapkan kepada PRONEWS5.COM, Kamis (16/4/2026), usai dilakukan investigasi langsung di sejumlah titik di Boltim dan Mitra.
Dari hasil penelusuran, kerusakan jalan terjadi di berbagai ruas strategis, mulai dari jalan kabupaten hingga jalan provinsi dan nasional.
Kondisi jalan yang berlubang, retak memanjang, hingga amblas diduga akibat tekanan beban berlebih yang terjadi secara terus-menerus dalam beberapa bulan terakhir.
Berdasarkan pemantauan di lapangan, truk pengangkut alat berat diduga melintas hampir setiap hari dengan muatan yang melebihi kapasitas.
Aktivitas ini berlangsung di jalur umum yang tidak dirancang untuk menahan beban kendaraan berat secara berulang.
Tokoh masyarakat, Yuni Wahyuni Srikandi, menyatakan bahwa kondisi ini perlu segera ditindaklanjuti oleh pihak berwenang.
“Jika benar alat berat itu digunakan untuk aktivitas tambang ilegal, dampaknya bukan hanya merusak lingkungan, tetapi juga menghancurkan infrastruktur jalan.
Bahkan, kondisi ini berpotensi merenggut nyawa pengguna jalan, baik pengendara roda dua maupun roda empat,” ujarnya.
Ia juga menyebut bahwa penggunaan jalur umum sebagai akses mobilisasi alat berat menuju lokasi tambang ilegal diduga telah berlangsung cukup lama.
Hasil penelusuran menunjukkan ruas-ruas jalan di Mitra dan Boltim diduga menjadi jalur utama mobilisasi alat berat menuju lokasi tambang ilegal.
Aktivitas ini terpantau berlangsung intensif dan diduga dilakukan pada waktu tertentu untuk menghindari pengawasan.
Secara teknis, setiap jalan memiliki batas daya dukung sesuai dengan kelas konstruksinya.
Kendaraan dengan muatan overload diduga memberikan tekanan berlebih pada lapisan aspal dan struktur pondasi jalan, sehingga mempercepat kerusakan.
Di beberapa titik, lebar jalan yang hanya sekitar 3,2 meter per lajur diduga tidak mampu menopang beban kendaraan berat secara terus-menerus.
Kerusakan jalan ini berdampak langsung pada aktivitas masyarakat.
Distribusi barang menjadi terhambat, biaya transportasi meningkat, dan risiko kecelakaan lalu lintas ikut meningkat.
Akses menuju sejumlah lokasi wisata juga diduga ikut terganggu, yang berpotensi mempengaruhi jumlah kunjungan wisatawan.
Masyarakat berharap pemerintah daerah dan aparat penegak hukum dapat segera melakukan penertiban terhadap aktivitas tambang ilegal serta kendaraan bermuatan berlebih.
Jika tidak ada langkah konkret, kerusakan jalan di Mitra dan Boltim diduga akan terus meluas dan berdampak lebih besar terhadap infrastruktur serta perekonomian daerah.
- Penulis: (**/ARP)



Saat ini belum ada komentar