Jejaknya Panjang, Medan Pelayanannya Luas: Mengapa Nama Pdt. Djoys Anneke Rantung Muncul dalam Percakapan BPMS GMIM?
- account_circle (**/ML)
- calendar_month Selasa, 6 Okt 2026
- visibility 284
- comment 0 komentar
- print Cetak

Pdt. Dr. Djoys Anneke Rantung, STh, MTh, DTh, dinilai memiliki rekam jejak pelayanan gerejawi, oikoumene dan akademik yang layak dipertimbangkan dalam pembahasan komposisi BPMS GMIM. (Foto: Dok.Ist)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
MANADO, PRONEWS5.COM — Ada nama yang dikenal karena jabatan. Ada pula nama yang menjadi pembicaraan karena perjalanan panjang yang dibangun melalui pelayanan, pengabdian dan pengalaman.
Pdt. Dr. Djoys Anneke Rantung, STh, MTh, DTh berada dalam kategori kedua.
Namanya bukan muncul tiba-tiba ketika pembicaraan mengenai regenerasi kepemimpinan Gereja Masehi Injili di Minahasa (GMIM) bergulir. Jauh sebelum itu, ia telah melewati perjalanan panjang sebagai pendeta, pemimpin jemaat, pelayan oikoumene, akademisi, peneliti sekaligus pendidik.
Yang membuat perjalanan tersebut menarik adalah medan pelayanannya yang tidak hanya berada di satu tempat.
Dari Tanah Minahasa, pelayanan membawanya ke Depok, Cibubur, Jabodetabek, Bandung dan sekitarnya. Di sana, ia tidak hanya menjalankan pelayanan pastoral, tetapi juga dipercaya merintis dan mengembangkan kehidupan pelayanan GMIM di tengah masyarakat yang majemuk.
Kepercayaan tersebut diberikan BPMS GMIM pada masa kepemimpinan Ketua Sinode GMIM Pdt. HWB Sumakul.
Pdt. Djoys kemudian dipercaya menjadi Ketua Wilayah GMIM Jabodetabek, Bandung dan sekitarnya periode 2016–2024. Ia juga memimpin Jemaat GMIM Antiokhia Cibubur selama 2017–2024 dan sejak 2024 dipercaya melayani sebagai Ketua Jemaat GMIM Providentia Tangerang.
Di titik inilah perjalanan Pdt. Djoys menjadi menarik untuk dibaca.
Ia bukan hanya mengetahui bagaimana gereja bekerja dari dalam, tetapi juga mengalami langsung bagaimana mempertahankan dan mengembangkan kehidupan jemaat GMIM jauh dari pusat tanah pelayanan historisnya.
Pengalaman tersebut menjadi modal perjalanan yang kemudian bertemu dengan dunia oikoumene.
Pada 2010–2015, Pdt. Djoys dipercaya menjadi Ketua II Badan Pekerja Harian Sinode Am Gereja Protestan Indonesia sebagai utusan GMIM. Ia juga pernah mengemban tugas sebagai Bendahara Yakoma PGI periode 2010–2014.
Artinya, ruang pelayanannya telah melampaui batas satu jemaat dan satu wilayah.
Namun, ada sisi lain yang membuat profilnya semakin kuat.
Pdt. Djoys adalah seorang akademisi.
Ia merupakan Associate Professor atau Lektor Kepala di Universitas Kristen Indonesia (UKI), aktif sebagai dosen Pascasarjana UKI Program Magister Pendidikan Agama Kristen sejak 2010 dan juga mengajar Pendidikan Agama Kristen di Universitas Indonesia.
Ia pernah dipercaya memimpin Program Studi Magister Pendidikan Agama Kristen Pascasarjana UKI periode 2017–2024.
Di ruang akademik, perhatian Pdt. Djoys tidak berhenti pada teori keagamaan. Pemikirannya bersentuhan dengan kehidupan masyarakat majemuk, pendidikan, perdamaian, keluarga, pembentukan karakter, keadilan sosial, pluralisme, radikalisme, teknologi digital hingga tantangan era algoritma.
Karya-karya akademiknya antara lain PAK dalam Kehidupan Masyarakat Majemuk, Resolusi Konflik dalam Organisasi, Keluarga Sebagai Lingkungan Edukasi Antikorupsi, Pendidikan Agama Kristen di Era Teknologi Digital, serta sejumlah buku ajar dan karya mengenai Pendidikan Agama Kristen dalam masyarakat multikultural dan perkembangan teknologi.
Dari sini terlihat sebuah garis perjalanan yang cukup jelas.
Pelayanan gereja bertemu dengan pendidikan. Pengalaman oikoumene bertemu dengan dunia akademik. Dan pengalaman melayani GMIM di luar Tanah Minahasa bertemu dengan pemahaman mengenai masyarakat yang semakin plural dan kompleks.
Bukan Hanya Bicara Gereja dari Mimbar
Pnt. Sandra Rondonuwu, tokoh perempuan yang pernah menjabat sebagai Anggota DPRD Provinsi Sulawesi Utara, melihat pengalaman tersebut sebagai bagian yang patut diperhitungkan dalam pembicaraan mengenai kepemimpinan gereja.
Menurut Sandra, Pdt. Djoys bukan hanya seorang akademisi, tetapi pelayan gereja yang memiliki pengalaman dalam berbagai ruang pengabdian.
“Pengalamannya dalam pelayanan gereja, organisasi oikoumene, dan dunia pendidikan menunjukkan pemahaman terhadap gereja dari berbagai sisi,” kata Sandra.
Menurutnya, perhatian Pdt. Djoys juga menyentuh persoalan pendidikan, perdamaian, keadilan sosial, kehidupan kebangsaan dan pembentukan warga gereja.
“Gereja sedang berhadapan dengan perubahan yang cepat dan persoalan yang semakin beragam. Karena itu, kita membutuhkan pemimpin yang tidak hanya mampu menjalankan organisasi, tetapi juga mampu membaca keadaan dan memahami ke mana gereja harus melangkah,” ujar Sandra.
Pernyataan tersebut memperlihatkan bahwa pembicaraan mengenai kepemimpinan gereja tidak lagi cukup jika hanya melihat pengalaman administratif.
Gereja membutuhkan ruang berpikir yang mampu mempertemukan iman dengan perubahan zaman.
Dan di situlah rekam akademik Pdt. Djoys menjadi bagian yang menarik untuk diperhatikan.
Perempuan dalam Ruang Kepemimpinan
Ada pula dimensi lain yang tidak kalah penting.
Pdt. Djoys merupakan perempuan yang telah lama berada dalam ruang kepemimpinan gereja, oikoumene dan pendidikan tinggi.
Pengalaman tersebut memberikan warna tersendiri dalam pembicaraan mengenai regenerasi kepemimpinan gereja.
Sandra menilai pengalaman perempuan dalam ruang pengambilan keputusan gerejawi merupakan bagian penting yang patut dilihat secara objektif.
Bukan semata-mata karena jenis kelamin, tetapi karena pengalaman, kapasitas dan perspektif yang dibawa dalam menjalankan pelayanan.
Dalam perjalanan Pdt. Djoys, pengalaman tersebut bukan sesuatu yang baru dimulai hari ini.
Ia telah menjalani berbagai tanggung jawab pelayanan selama puluhan tahun.
Dari Manado hingga Jabodetabek
Pdt. Dr. Djoys Anneke Rantung lahir di Manado pada 18 Januari 1967.
Ia menempuh pendidikan teologi di Fakultas Theologia UKI-Tomohon pada 1986–1991. Pendidikan kemudian membawanya ke jenjang Magister Pendidikan Agama Kristen di UKI, Doktor Teologia PAK di STT Cipanas dan Doktor Teologia PAK di STFT Jaffray Makassar.
Perjalanan akademiknya juga menghasilkan sejumlah penghargaan, termasuk sebagai wisudawan lulusan terbaik UKI Jakarta pada 2009 dan Tokoh Kristiani Pilihan Majalah Narwastu pada 2016.
Di lingkungan akademik, ia juga tercatat memperoleh penghargaan terkait pencapaian sitasi dan publikasi Program Studi Magister PAK Pascasarjana UKI pada 2024.
Semua itu merupakan bagian dari perjalanan yang panjang.
Dan ketika seluruh pengalaman tersebut dirangkai, terlihat sebuah profil yang tidak berdiri pada satu bidang saja.
Ia memiliki pengalaman pastoral.
Ia pernah memimpin jemaat.
Ia pernah berada dalam kepemimpinan oikoumene.
Ia merintis dan mengembangkan pelayanan GMIM di luar Tanah Minahasa.
Ia mengajar dan membentuk calon pendidik serta pemimpin gereja.
Ia menulis dan meneliti.
Ia juga berbicara mengenai persoalan gereja dan masyarakat yang terus berubah.
Nama yang Kini Layak Dibicarakan
Karena itu, ketika komposisi BPMS GMIM menjadi bagian dari pembicaraan mengenai masa depan kepemimpinan gereja, nama Pdt. Dr. Djoys Anneke Rantung memiliki rekam perjalanan yang cukup panjang untuk menjadi bagian dari percakapan tersebut.
Tentu, keputusan mengenai komposisi BPMS GMIM merupakan bagian dari mekanisme, tata gereja dan ketentuan organisasi yang berlaku.
Namun, sebelum sebuah nama ditempatkan dalam sebuah komposisi kepemimpinan, masyarakat gereja tentu memiliki ruang untuk melihat perjalanan dan rekam jejaknya.
Dalam konteks itu, perjalanan Pdt. Djoys menawarkan sesuatu yang menarik untuk diperhatikan.
Bukan sekadar gelar akademik.
Bukan sekadar jabatan.
Melainkan pengalaman panjang yang ditempa dari pelayanan jemaat, perintisan GMIM di luar Tanah Minahasa, kepemimpinan oikoumene, pendidikan tinggi dan pergumulan dengan berbagai persoalan masyarakat.
Mungkin karena itulah nama Pdt. Dr. Djoys Anneke Rantung mulai menarik perhatian dalam percakapan mengenai masa depan kepemimpinan GMIM.
Sebab pada akhirnya, masa depan gereja tidak hanya membutuhkan orang yang pernah memimpin.
Gereja juga membutuhkan orang yang memahami perjalanan, membaca perubahan dan memiliki pengalaman untuk membawa pelayanan menjawab tantangan zaman.
Dan perjalanan panjang Pdt. Dr. Djoys Anneke Rantung memberikan cukup banyak alasan bagi warga gereja untuk mengenal, mencermati dan menilai rekam jejaknya secara utuh.
- Penulis: (**/ML)



Saat ini belum ada komentar