MANADO, PRONews5.com — Ketua Umum Pengurus Besar (PB) Laskar NAPIRI (Narapidana Mandiri), Alfa Christian Kaliey, mengajak seluruh warga binaan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Bitung untuk bangkit, berubah, dan menata hidup sebagai ciptaan baru di dalam Kristus, sebagaimana ditegaskan dalam firman Tuhan 2 Korintus 5:17.
Ajakan penuh semangat dan motivasi tersebut disampaikan Alfa Kaliey saat memberikan sambutan dalam Ibadah Natal Oikumene yang digelar di Gedung Gereja Petra Oikumene Lapas Kelas IIB Bitung, Sulawesi Utara, Selasa (30/12/2025).
Dalam sambutannya, Alfa Kaliey menegaskan bahwa Natal bukan sekadar perayaan seremonial, melainkan momentum refleksi dan titik balik kehidupan, termasuk bagi para narapidana yang tengah menjalani masa pembinaan.
“Firman Tuhan berkata, siapa yang ada di dalam Kristus adalah ciptaan baru. Artinya masa lalu—dosa, kegagalan, dan kesalahan—tidak lagi menjadi penentu masa depan. Tuhan memberi hidup baru, arah baru, dan harapan baru,” ujar Alfa Kaliey.
Menurutnya, keberadaan Lapas harus dimaknai bukan sebagai akhir dari segalanya, tetapi sebagai ruang pembentukan karakter dan pemulihan jati diri.
Dengan pembinaan rohani yang berkesinambungan, warga binaan diharapkan mampu kembali ke masyarakat sebagai pribadi yang bertanggung jawab, mandiri, dan memiliki integritas.
Pada kesempatan itu, Alfa Kaliey juga menyampaikan ucapan terima kasih dan apresiasi kepada Kepala Lapas Kelas IIB Bitung beserta seluruh jajaran dan pegawai yang telah membuka ruang pembinaan rohani bagi seluruh warga binaan.
“Kami mengapresiasi Kalapas dan seluruh jajaran yang konsisten mendukung pembinaan mental dan spiritual.
Ini adalah wujud nyata pemasyarakatan yang mengedepankan pemulihan, bukan semata-mata hukuman,” katanya.
Ibadah Natal Oikumene tersebut dipimpin oleh Ev. Imanuel Dotulong dengan perenungan firman Tuhan dari 2 Korintus 5:17, “Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang.”
Firman ini menegaskan bahwa hidup di dalam Kristus membawa perubahan total, bukan hanya perbaikan perilaku, tetapi pembaruan identitas.
Masa lalu tidak lagi mengikat, karena Tuhan memberi kesempatan untuk meninggalkan cara hidup lama dan hidup sebagai manusia baru yang memancarkan kasih, kebenaran, dan ketaatan kepada Tuhan, ungkap Dotulong.
Ibadah Natal Oikumene tersebut ditutup dengan pembagian Alkitab kepada seluruh narapidana yang hadir.
Pembagian Alkitab ini menjadi simbol nyata kasih, pengharapan, dan komitmen pembinaan rohani, agar firman Tuhan terus menjadi pegangan hidup warga binaan dalam proses perubahan diri dan penataan masa depan yang lebih baik.
Melalui momentum Natal ini, Alfa Kaliey berharap nilai pertobatan dan perubahan hidup tidak berhenti di dalam Lapas, tetapi terus dibawa hingga para warga binaan kembali ke tengah masyarakat sebagai manusia baru yang mampu memberi dampak positif bagi lingkungan sekitar.
[**/ARP]

