MANADO, PRONews5.com — Tokoh masyarakat Sulawesi Utara sekaligus mantan Direktur Jenderal Imigrasi Kementerian Hukum dan HAM, Irjen. Pol. (Purn.) Dr. Ronny Franky Sompie, S.H., M.H., menyerukan kebangkitan seni dan budaya lokal sebagai fondasi jati diri bangsa sekaligus motor penggerak ekonomi kreatif menuju Indonesia Emas 2045.
Ronny menegaskan, penguasaan teknologi modern harus menjadi alat penguat budaya, bukan justru menggerus warisan leluhur.
Di tengah derasnya arus digitalisasi dan globalisasi, budaya lokal harus berdiri sebagai identitas yang hidup dan produktif bagi generasi muda.
Menurut Ronny, kekayaan intelektual daerah Sulawesi Utara—mulai dari seni kriya Minahasa, motif khas Bolaang Mongondow, hingga kearifan lokal Nusa Utara (Sangihe–Talaud)—memiliki nilai ekonomi tinggi jika dikelola secara profesional, modern, dan berorientasi pasar global.
“Bangsa-bangsa maju sangat menghargai detail, ketelitian, dan nilai filosofis karya seni mereka.
Anak-anak muda Sulawesi Utara, khususnya Generasi Z dan Alpha, harus berani memadukan keterampilan tradisional dengan manajemen pemasaran digital serta perlindungan hukum,” ujar Ronny, Minggu (25/1/2026).
Ia menekankan, kemajuan teknologi seperti Artificial Intelligence (AI) dan digital printing seharusnya dimanfaatkan sebagai alat bantu desain, arsip, dan dokumentasi motif-motif kuno agar tidak punah.
Teknologi, kata dia, tidak boleh menggantikan sentuhan tangan manusia yang menjadi roh dan jiwa utama sebuah karya seni.
Dalam pandangannya, Ronny Sompie memetakan tiga pilar utama yang harus dibangun secara konsisten di Sulawesi Utara.
Pertama, pendidikan berbasis karakter dan budaya, dengan menanamkan kebanggaan terhadap identitas Minahasa, Bolaang Mongondow, dan Nusa Utara sejak usia dini.
Kedua, hilirisasi budaya, yakni mengubah seni tradisional menjadi produk bernilai ekonomi tinggi yang mampu bersaing di pasar nasional dan internasional.
Ketiga, advokasi hukum dan perlindungan Hak Kekayaan Intelektual (HAKI), agar nilai ekonomi karya seni benar-benar kembali kepada pengrajin dan komunitas lokal, bukan justru dibajak pihak luar.
“Tanpa perlindungan hukum yang kuat, seni lokal hanya akan menjadi komoditas murah di pasar global,” tegasnya.
Bagi Ronny Sompie, Indonesia Emas 2045 bukan semata soal pertumbuhan ekonomi dan infrastruktur, melainkan tentang bangsa yang maju tanpa tercerabut dari akar budayanya.
“Seni yang diciptakan dengan hati, ketelitian manual, dan nilai budaya akan semakin mahal di masa depan.
Ia memiliki ‘jiwa’ yang tidak bisa diciptakan oleh mesin mana pun,” ujarnya.
Ia mengajak generasi muda Minahasa, Bolaang Mongondow, Sangihe, Talaud, hingga seluruh suku di Indonesia untuk tidak ragu menjadi seniman atau pengrajin yang melek teknologi, berani berinovasi, dan sadar hukum.
Rekam Jejak Ronny Sompie

